Sabtu, 24 Desember 2016

Assalamualaikum Wr.wb
Selamat malam juga pak Naka
            Saya Winda Yulia Astuti akan menanggapi surat dai pak Setia Naka Andrian. Suratnya begitu sangat menarik yang diawali dengan sapaan kepada mahasiswa, kemudian bertanya kabarpula kepada mahasiswa, dengan kata-kata yang cukup menarik untuk dibaca oleh mahasiswa. Sebenarnya surat itu tidak mendadak juga karena sebelumnya pak Naka sendiri sudah memberitahukan kepada mahasiswa bahwa pak Naka akan memberi surat untuk mahasiswa entah apapun itu isinya. Jadi ketika surat itu dibagikan dan samapai kepada tangan mahasiswa, mahasiswa juga tidak terlalu kaget-kaget banget hehehe.
Ketika saya membaca surat dari pak Naka pada bagian “surat ini saya buat dalam kondisi yang muram, pada saat selepas  bangun tidur, selepas shalat subuh, ketika masih ada sisa adzan yang terngiang di dada” pada bagian itu saya agak merasa tidak percaya, namun saya berusaha untuk percaya , karena di surat itu juga ditulis bahwa pak Naka sendiri ”tidak bisa berbohong jika itu untuk kalian (mahasiswa) semua. Kaena sepertinya kebohongan adalah sebagian kecil dariupaya besar untuk kehancuran kita yang akan datang”.
Pada bagian “selama 18-20 Oktober 2016, saya harus menghadiri musyawarah sastrawan di Badan Bahasa Jakarta. Mulai sejak Senin siang, sekitar pukul 14.00 saya dan beberapa teman dari wakil Jawa Tengah naik pesawat dari Stasiun Poncol, di perkirakan akan mendarat sekitar pukul 20.00 di Stasiun Pasar Senen”. Perasaan di stasiun poncol ke pasar senen itu kereta api, tapi kenapa Pak Naka naiknya pesawat. Pesawat dari mananya pak?. Pak Naka tahu saja kalau mahasiswa sering makan indomie. Maklum lah pak buat pengiritan,tapi biasanya maahasiswa makan indomie kalau uang sedang menipis.
Saya tahu tujuan pak Naka menyuruh mahasiswa untuk membaca, untuk membaca, untuk membeli buku, untukmembaca koran, untuk membaca majalah dll. Itu tujuannya agar mahasiswa tahu lingkunga luar, dunia luar, atau agar mahasiswa tahu informasi atau berita-berita apa saja yang ada di koran atau majalah. Dan tentunya agar mahasiswa ketika setelah membaca dapat menemukan ide u untuk ditulis dan kalau bisa dimuat di koran atau majalah. Walaupun pada kenyataannya banyak mahasiswa yang biasa-biasa saja. Dan hanya beberapa saja mahasiswa yang mendapatkan ide untuk menulis opini atau apa saja yang diniatkan untuk dimuat di salah satu koran.
Memang dengan membaca kita dapat menemukan atau memperoleh hal-hal atau ide-ide  yang baru. Seperti kemarin hari Rabu,19 Oktober 2016.  pada acara UPGRIS Bersastra, pak Triyanto Triwikromo yang belajar menulis dengan pak Pras. Sampai pak Pri dapat menerbitkan tulisannya di sebuah koran Kompas. Dan sampai saat ini Pak Tri menjadi seorang penulis yang besar dan sukses.
Unutk masalah mencuci baju, benar sekali pak saya baju saja selesai mencuci baju. Untuk bersih-bersih kosan benar sih tapi lebih tepatnya bersih-bersih kamar kos. Tapi kalau yang baru saja mengantar pacar beli makan malam, itu tidak benar sama sekali untuk saya pak, karena saya jomblo, tapi lebih tepatnya saya single hehehe.
Semenjak saya SMA, jauh hari sebelum datangnya Ujian Nasional, ayah saya memberi tiga pilihan unutk saya setelah lulus dari SMA. Pilihannya yaitu saya akan lanjut kuliah, atau ingin bekerja, atau ingin menikah. Dan saya langsung dengan spontan menjawab bahwa saya ingin kuliah, tapi tergantung orang tua yang mampu membiayai saya untuk kuliah atau tidak. Jika tidak mampu saya memilih utnuk bekerja saja. Namun ayah saya menyanggupi bila saya kuliah walaupun dengan bekerja keras, banting tulangpun ayah lakoni untuk biaya kuliah saya nantinya. Dan ternyata itulah yang diharapkan oleh ayah saya. Ayah sayapun mendorong semangat saya untuk kuliah. Namun berbeda dengan Ibu saya yang menginginkan saya untuk bekerja saj, tapi ayah saya tetap mendorong semangat saya untuk kuliah. Karena ayah mengharapkan anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan yang tinggi dan menjadi orang yang sukses. Apalagi saya sebagai anak pertama yang mempunyai 3 adik. Tuntutan orng tua untuk saya sukses sangatlah tinggi, karena Saya harus menjadi contoh yang baik buat adik-adik saya. Dan sampai saat ini pun ayah selalu memotivasi saya untuk kuliah yang benar, yang semangat dll. Dan untuk Ibu pun akhirnya mengizinkan saya untuk kuliah dan Ibu juga memotivasi saya dan memberi saya semangat untuk belajar.
Yang memotivasi saya untuk kuliah lebih giat lagi yaitu dengan nasihat-nasihat dari orang tua. ini juga adalah cita-cita saya untuk menjadi guru, menaik hajikan kedua orang tua dan tentunya membuat orang tua bahagia. Membalas apa yang telah mereka kasih kepada saya walaupaun balasan nantinya tak seberapa.
Memang banyak orang yang mampu menilai atau memahami orang lain. Namun cukup sulit untuk menilai diri sendiri. Termasuk saya sendiri. Jika ada yang bertanya “kamu orangnya bagaimana sih?” pertanyaan itu yang membuat bibir saya mendadak kaku, dan tak dapat mengungkapkan sepatah katapun mengenai diri saya. Sampai saat inipun saya belum menemukan bakat yang terpendam dalam diri saya, saya belum menemukan jati diri saya. Jujur untuk mengungkapkan gagasan atau ide dan bertanyapun saya belum terlalu bisa menyusun kata-kata yang baik. Agar menjadi pertanyaan yang bagus, tidak monoton atau yang berkualitas.

Untuk masalah tugas kuliah yang selalu berdatangan secara sendiri2 atau berbondong-bondong itu memang suddah biasa dan itu juga kewajiban setiap mahasiswa. Dan kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa itu juga salah satu kewajibannya karena dia sendiri yang memilih utnuk mengikuti kegiatan di dalam maupun di luar kampus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar