Assalamualaikum
Wr.wb
Selamat
malam juga pak Naka
Saya
Winda Yulia Astuti akan menanggapi surat dai pak Setia Naka Andrian. Suratnya
begitu sangat menarik yang diawali dengan sapaan kepada mahasiswa, kemudian
bertanya kabarpula kepada mahasiswa, dengan kata-kata yang cukup menarik untuk
dibaca oleh mahasiswa. Sebenarnya surat itu tidak mendadak juga karena
sebelumnya pak Naka sendiri sudah memberitahukan kepada mahasiswa bahwa pak
Naka akan memberi surat untuk mahasiswa entah apapun itu isinya. Jadi ketika
surat itu dibagikan dan samapai kepada tangan mahasiswa, mahasiswa juga tidak
terlalu kaget-kaget banget hehehe.
Ketika
saya membaca surat dari pak Naka pada bagian “surat ini saya buat dalam kondisi
yang muram, pada saat selepas bangun
tidur, selepas shalat subuh, ketika masih ada sisa adzan yang terngiang di dada”
pada bagian itu saya agak merasa tidak percaya, namun saya berusaha untuk
percaya , karena di surat itu juga ditulis bahwa pak Naka sendiri ”tidak bisa
berbohong jika itu untuk kalian (mahasiswa) semua. Kaena sepertinya kebohongan
adalah sebagian kecil dariupaya besar untuk kehancuran kita yang akan datang”.
Pada
bagian “selama 18-20 Oktober 2016, saya harus menghadiri musyawarah sastrawan
di Badan Bahasa Jakarta. Mulai sejak Senin siang, sekitar pukul 14.00 saya dan
beberapa teman dari wakil Jawa Tengah naik pesawat dari Stasiun Poncol, di
perkirakan akan mendarat sekitar pukul 20.00 di Stasiun Pasar Senen”. Perasaan
di stasiun poncol ke pasar senen itu kereta api, tapi kenapa Pak Naka naiknya
pesawat. Pesawat dari mananya pak?. Pak Naka tahu saja kalau mahasiswa sering
makan indomie. Maklum lah pak buat pengiritan,tapi biasanya maahasiswa makan
indomie kalau uang sedang menipis.
Saya
tahu tujuan pak Naka menyuruh mahasiswa untuk membaca, untuk membaca, untuk
membeli buku, untukmembaca koran, untuk membaca majalah dll. Itu tujuannya agar
mahasiswa tahu lingkunga luar, dunia luar, atau agar mahasiswa tahu informasi
atau berita-berita apa saja yang ada di koran atau majalah. Dan tentunya agar
mahasiswa ketika setelah membaca dapat menemukan ide u untuk ditulis dan kalau
bisa dimuat di koran atau majalah. Walaupun pada kenyataannya banyak mahasiswa
yang biasa-biasa saja. Dan hanya beberapa saja mahasiswa yang mendapatkan ide
untuk menulis opini atau apa saja yang diniatkan untuk dimuat di salah satu
koran.
Memang
dengan membaca kita dapat menemukan atau memperoleh hal-hal atau ide-ide yang baru. Seperti kemarin hari Rabu,19
Oktober 2016. pada acara UPGRIS
Bersastra, pak Triyanto Triwikromo yang belajar menulis dengan pak Pras. Sampai
pak Pri dapat menerbitkan tulisannya di sebuah koran Kompas. Dan sampai saat
ini Pak Tri menjadi seorang penulis yang besar dan sukses.
Unutk
masalah mencuci baju, benar sekali pak saya baju saja selesai mencuci baju.
Untuk bersih-bersih kosan benar sih tapi lebih tepatnya bersih-bersih kamar
kos. Tapi kalau yang baru saja mengantar pacar beli makan malam, itu tidak
benar sama sekali untuk saya pak, karena saya jomblo, tapi lebih tepatnya saya
single hehehe.
Semenjak
saya SMA, jauh hari sebelum datangnya Ujian Nasional, ayah saya memberi tiga
pilihan unutk saya setelah lulus dari SMA. Pilihannya yaitu saya akan lanjut
kuliah, atau ingin bekerja, atau ingin menikah. Dan saya langsung dengan
spontan menjawab bahwa saya ingin kuliah, tapi tergantung orang tua yang mampu
membiayai saya untuk kuliah atau tidak. Jika tidak mampu saya memilih utnuk
bekerja saja. Namun ayah saya menyanggupi bila saya kuliah walaupun dengan
bekerja keras, banting tulangpun ayah lakoni untuk biaya kuliah saya nantinya.
Dan ternyata itulah yang diharapkan oleh ayah saya. Ayah sayapun mendorong
semangat saya untuk kuliah. Namun berbeda dengan Ibu saya yang menginginkan saya
untuk bekerja saj, tapi ayah saya tetap mendorong semangat saya untuk kuliah.
Karena ayah mengharapkan anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan yang tinggi dan
menjadi orang yang sukses. Apalagi saya sebagai anak pertama yang mempunyai 3
adik. Tuntutan orng tua untuk saya sukses sangatlah tinggi, karena Saya harus
menjadi contoh yang baik buat adik-adik saya. Dan sampai saat ini pun ayah
selalu memotivasi saya untuk kuliah yang benar, yang semangat dll. Dan untuk
Ibu pun akhirnya mengizinkan saya untuk kuliah dan Ibu juga memotivasi saya dan
memberi saya semangat untuk belajar.
Yang
memotivasi saya untuk kuliah lebih giat lagi yaitu dengan nasihat-nasihat dari
orang tua. ini juga adalah cita-cita saya untuk menjadi guru, menaik hajikan
kedua orang tua dan tentunya membuat orang tua bahagia. Membalas apa yang telah
mereka kasih kepada saya walaupaun balasan nantinya tak seberapa.
Memang
banyak orang yang mampu menilai atau memahami orang lain. Namun cukup sulit
untuk menilai diri sendiri. Termasuk saya sendiri. Jika ada yang bertanya “kamu
orangnya bagaimana sih?” pertanyaan itu yang membuat bibir saya mendadak kaku,
dan tak dapat mengungkapkan sepatah katapun mengenai diri saya. Sampai saat
inipun saya belum menemukan bakat yang terpendam dalam diri saya, saya belum
menemukan jati diri saya. Jujur untuk mengungkapkan gagasan atau ide dan
bertanyapun saya belum terlalu bisa menyusun kata-kata yang baik. Agar menjadi
pertanyaan yang bagus, tidak monoton atau yang berkualitas.
Untuk
masalah tugas kuliah yang selalu berdatangan secara sendiri2 atau berbondong-bondong
itu memang suddah biasa dan itu juga kewajiban setiap mahasiswa. Dan kegiatan
yang diikuti oleh mahasiswa itu juga salah satu kewajibannya karena dia sendiri
yang memilih utnuk mengikuti kegiatan di dalam maupun di luar kampus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar