TEATER
JAKA TARUB DAN BALADA SUMARAH
Oleh:Winda Yulia Astuti
Teater Yang berjudul Jaka Tarub yang
diperankan oleh mahasiswa Universitas PGRI Semarang. Cukup memukau dilihat dari
segi penataan ruang dan pemeran utama
yaitu Jaka Tarub dan Nawangwulan. Yang di pentaskan selasa, 4 Oktober
2016 pukul 15.00 dan 19.00 tepatnya dua kali pementasan. Untuk penataan
panggung juga sudah bagus. Di muali dari rumah yang menggunakan geribik yang
dianyam dengan sedemikian rupa, mampu dijadikan sebuah rumah pementasan.
Untuk danau dan batu-batu yang ada di samping danau juga
sudah bagus pembuatannya terutama batu yang cukup besar untuk menaruh selendang
tujuh bidadari. Kemudian semak-semak yang dipenuhi dengan rumput yang
menandakan bahwa itu memang semak-semak. Lalu untuk desain awan yang ada di
langit juga sudah cukup menarik. Untuk lampu-lampunya juga bagus sudah tepat
dengan penjuruannya. Untuk para pemainnya juga sudah bagus, dari mulai kostum
yang di kenanakan oleh Jaka Tarub dan bidadari-bidadari. Dan untuk akting,
mereka sudah cukup mahir dalam berakting, karena sudah kelihatan mereka tidak
seperti menghafal ketika mereka bergilir masuk ke TKP.
Suasana dalam pementasan sudan cukup mendukung.
Pemerannya begitu apik saat memerankan perannya masing-masing, keromantisannya
sudah didapatkan ketika pemain Jaka Tarub dengan Nawangwulan melakukan perannya
dengan baik. cukup menarik pula ketika di tengah-tengah memainkan teaer,
terdapat guyonan-guyonan yang sangat jauh topiknya dengan judul “Jaka Tarub”.
Namun di situ sangat bagus karena dapat menghibur penonton dengan comedi yang
di selipkan di tengah-tengah teater tersebut.
Saya menonton teater “Jaka Tarub” merasa terbawa suasana,
saya merasa hidup di dalam teater tersebut, dan saya merasa ada di dalam teater
tersebut, merasa hidup dalam teater Jaka Tarub.
Jaka
Tarub adalah seorang pemuda dari desa yang mempunyai rupa yang rupawan. Jaka
Tarub bermimpi menikah dengan seorang bidadari yang sangat cantik jelita.
Ketika ia terbangun dari tidurnya ia sadar bahwa itu hanyalah sebuah bunga
tidur (mimpi). Mengapa Jaka Tarub merasa yakin bahwa dirinya bisa menikah
dengan seorang bidadari dari khayangan yang cantik jelita tersebut karena di
setiap bulan purnama Jaka Tarub selalu bermimpi sama sperti halnya yang
dimimpikan semalam. Kemudian ia teringat ibunya yang sudah meninggal, karena semenjak
ibunya masih hidup, ibunya memiliki satu permintaan yang sampai saat ini,
sampai ibunya sudah meninggal belum terlaksana.
Jaka
Tarub justru lebih banyak melamun dan Jaka Tarub merasa sangat lelah dan ingin
beristirahat.memang, itulah pekerjaan Jaka Tarub setiap harinya yang memburu
hewan, jika Jaka Tarub mendapatkan hewan buruan tidak hanya utnuk dirinya
sendiri tapi pasti buruannya di bagikan kepada tentangga-tetangganya.
Jaka
Tarub memperhatikan satu persatu gadis yang ada di danau tersebut. Semuanya
berparas cantik jelita layaknya seperti bidadari dari khayangan. Dari
percakapan gadis-gadis tersebut Jaka Tarub sekilas mendengar bahwa mereka
adalah bidadari dari khayangan. Kemudian Jaka Tarub berfikir jika yang di alami
sekarang adalah jawaban dari mimpi yang selama bulan pernama Jaka. Tapi it
bukanlah sebuah hayalan semata. Yang dilihat oleh Jaka Tarub itu memang
benar-benar nyata.
Jaka
Tarub melihat tumpukan selendang bidadari di atas sebuah batu yang bersar di
pinggir danau tersebut. Setiap selendang itu memiliki warna yang berbeda-beda. Jaka Tarub berfikir jika Jaka
arub mengambil salah satu selendang milik bidadari itu, tentu yang punya selendang
itu tidak Tarub selalu bermimpi menikah dengan seorang bidadari yang cantik
jelita dari khayangan. dapat kembali ke khayangan. Jaka Tarub senyum-senyum
sendiri, karena membayangkan jika salah satu dari bidadari itu mau di jadikan
istri oleh Jaka Tarub. Perlauan Jaka Tarub mungkin bisa dikatakan jahat namun,
agar Jaka Tarub bisa menikah dengan salah satu dari bidadari yang cantik jelita
dari khayangan tersebut, apapun akan Jaka Tarublakukan, walaupun itu bisa
membuat salah satu dari bidadari itu tidak bisa kembali pulang ke khayangan dan
tetap tinggal di bumi bersama Jaka Tarub
Jaka
arub mengambil salah satu selendang milik bidaddari tersebut. Tiba-tiba salah
seorang dari bidadari mengatakan bahwa hari sudah mulai sore, maka mereka harus
kembali pulang ke khayangan sebelum matahari terbenam. Para bidadari itupun
menyetujui pendapat saudaranya, kemudian mereka keluar dari danau dan mereka
mengenakan selendang masing-masing. Ada salah seorang bidadari yang kebingungan
mencari selendangnya, salah seorang bidadari yang kehilangan selendang itu ingin
sekali rasanya menangis, karena takut tidak bisa kembali pulang ke khayangan.
bidadari itu bernama Nawangwulan.
Akhirnya
Nawangwulan berkata kepada adik-adiknya bahwa adik-adiknya harus kembali pulang
ke khayangan sebelum matahari terbenam. namun adik-adik Nawangwulan tidak mau
meninggalkan Nawangwulan sendirian di bumi. Tetapi Nawangwulan tetap meyuruh
adik-adiknya utnuk segera kembali pulang ke khayangan. Untuk meyakinkan
adik-adiknya Nawangwulan berjanji bhawa Nawangwulan tidak apa-apa apabila ditinggal
sendirian di bumu, jika selendang
Nawangwulan sudah ketemu Nawangwulan berjanji untuk segera kembali pulang ke
khayangan. tngMerekapun memelik
Nawangwulan, seakan mereka tidak rela meninggalkan Nawangwulan seorang diri di
bumi.
Ke
6 bidadari itu pun terbang kembali pulang ke khayangan meninggalkan
Nawangwulan, tidak bisa berbuat apa-apa.
Nawangwulan hanya bisa mengangguk dan melambaikan tangan kepada ke 6 adiknya
yang terbang perlahan meninggalkan danau dan Nawangwulan. Nawangwulan sangat
sedih sekali dan Nawangwulan berfikir
kalau itu sudah nasib Nawangwulan untuk menjadi penghuni bumi. sambil
Nawangwulan mencucurkan air mata, karena tidak bisa menemukan selendang itu dan
tidak bisa kembali pulang ke khayangan bersama adik-adiknya.
Nawangwulanpun
ingat bahwa sebelumnya dirinya pernah berjanji kepada dirinya sendiri apa bila
ada yang memberikan ia pakaian maka ia jadikan saudara apa bila ia perempuan,
namun apa bila ia seorang laki-laki maka ia akan dijadikan suami. Dan
Nawangwulanakan menepati janjinya dengan mau menjadikan Jaka Tarub sebagai
suaminya. Padahal seorang bidadari tidak boleh jatuh cinta dengan manusia apa
lagi menikah dengan manusia. Namun bagaimana lagi Nawangwulan sebelmnya pernah
berjanji kapada dirinya sendiri bahwa Nawangwulan akan menjadikan seorang
laki-laki yang memberikan pakaian kepada Nawangwulan. Akhirnya Nawangwulan
tanpa ragu bersedia menerima Jaka Tarub sebagai suaminya. Dan merekapun pulang
ke rumah Jaka Tarub. namun sebelumnya Nawangwulan bagaimana bingung jika tetangga
Jaka trub menanyakan asal usul Nawangwulan, tidak mungkin Jaka Tarub mengatakan
hal yang sebenarnya bahwa Nawangwulan adalah seorang bidadari dari khayangan.
Akhirnya Jaka Tarub mempunyai ide, jika tetangga Jaka Tarub menanyakan tentang
asal usul Nawangwulan, Jaka Tarub akan menjawab kepada tetangganya, bahwa
Nawangwulan itu berasal dari desa yang sangat jauuuh sekali. Akhirnya mereka
pulang untuk merencanakan pernikahan Jaka Tarub dengan Nawangwulan.
Hari
berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, Jaka Tarub dan
Nawangwulan yang sudah menikah tak terasa sekarang Nawangwulan sedang hamil
tua. anak dari Jaka Tarub. Ketika mereka duduk di depan rumah, dan Nawangwulan yang sedang ngobrol tentang
kehamilannya dan merencanakan siapa nama anaknya kelak. beberapa saat kemudian
perut Nawangwulan terasa sangat sakit seperti akan melahirkan. Jaka Tarub
langsung memanggil dukun bayi yang dapat membantu proses kelahiran istrinya.
Dengan rasa gugup, panik, takut, dan bahagia perasaan Jaka Tarub sudah campur
aduk menjadi satu.Setelah Jaka Tarub mendengar suara bayi menangis, Jaka Tarub
langsung mengucapkan puji syukur dan langsung masuk ke rumah untuk melihat
keadaan istrinya dan anaknya. Jaka Tarub dan Nawangwulan telah dikaruniai
seorang putri yang diberi nama Nawangsih.
Panen
yang di peroleh secara teratur membuat lumbung lumbung padi mereka hampir tak
muat lagi utnuk menampungnya.
Pada
suatu pagi, Nawangwulan hendak mencuci ke sungai dan menitipkan Nawangsih pada
Jaka Tarub. Nawangwulan juga mengingatkan pada suaminya (Jaka Tarub) itu utnuk
tidak membuka tutup kukusan nasi yang sedang dimasaknya. Ketika Jaka Tarub
sedang asyik bermain dengan Nawangsih yang saat itu umurnya masih 1 tahun, Jaka
Tarub teringat dengan nasi yang sedang dimasak istrinya karena terasa sudah
lama, Jaka Tarub hendak melihat apakah nasi itu sudah matang atau belum. Tanpa
sadar jaka tarub membuka kukusan nasi itu dan lupa akan pesan istrinya. Betpa
terkejutnya Jaka Tarub setelah melihatisi kukusan itu. Nawangwulan hanya masak
setangkai padi. Jaka Tarubpun langsung teringat akan persediaan padi mereka
yang semakin lama semakin banyak. Terjawab sudah pertanyaannya selama ini.
Nawangwulan
yang rupanya telah sampai di rumah, setelah Nawangwulan masuk ke dapur,
Nawagwulan menatap marah kepada Jaka Tarub, karena Jaka Tarub sudah melanggar
pesan Nawangwulan. Kemudian Nawangwulan bertanya kepada Jaka Tarub, kenapa Jaka
Tarub mengingkari pesan Nawangwulan. Kemudian Jaka Tarub tidak bisa menjawab
dan hanya bisa terdiam. Kemudian Nawangwulan berkata lagi bahwa hilang sudah
kesaktian Nawangwulan utnuk merubah setangkai padi menjadi sebakul nasi. Jaka
Tarub sangat menyesal karena sudah mengingakri pesan istrinya, tapi apa yang
mau dikatakan lagi
.
Ketika sedang menarik batang padi yang tersisa tinggal sedikit itu, Nawangwulan
merasa tangannya memegang sesuatu yang lembut. Karena penasaran, Nawangwulan
terus menarik benda itu. Wajah Nawangwulan seketika pucat pasi menatap benda
yang baru saja berhasil diraihnya. Baju bidadari dan selendangnya yang berwarna
merah.. !!
Jaka Tarub menahan kesedihannya
dengan sangat. Ia ingin terlihat tegar. Setelah Jaka Tarub menyatakan
kesanggupannya untuk tidak bertemu lagi dengan Nawangwulan, sang bidadaripun
terbang meninggalkan dirinya dan Nawangsih. Jaka Tarub hanya sanggup menatap
kepergian Nawangwulan sambil mendekap Nawangsih. Sungguh kesalahannya tidak
termaafkan. Tiada hal lain yang dapat dilakukannya saat ini selain merawat
Nawangsih dengan baik seperti pesan Nawangwulan.
Pada
pementasan yang kedua yang berjudul Monolog Balada Sumarah. Pada pementasan
kali ini sangat begitu menarik karena yang berperan hanya satu orang, yaitu
sosok wanita seperti judulnya. Sumarah ini adalah seorang wanita asal Indonesia
yang merupakan anak dari ayah yang merupakan golongan PKI yang saat itu sedang
buming. Sumarah ini merasa tidak terima diperlakukannya seperti itu,misalnya
dikucilkan dan dijauhi oleh teman-temannya semasa ia sekolah sampai lulus SMA.
Untuk mencari pekerjaan yang layak pun sumarah merasa kesulitan karena ia
adalah anak dari seorang golongan PKI. Padahal saat itu ayahnya tidak mengikuti
PKI. Tetapi kenapa ayahnya bisa termasuk dalam golongan PKI tersebut. Setelah
itu Sumarah nekat untuk mendaftar bekerja diluar negeri atau istilahnya TKW. Ia
mendaftar ke kantor yang mengurus TKW. Supaya administrasi berjalan dengan
lancar maka yang dilakukan ialah dengan jalan belakang dengan adanya uang.
Karena jaman sekarang jika urusan akan lancar maka uang pun juga harus lancar.
Acara ini Sumarah lakukan supaya administrasi bisa diurus tanpa adanya kendala.
Maka pergilah ia ke Arab Saudi,
pikirnya ia disana akan mendapatkan penghasilan yang banyak tetapi ia disana
mendapatkan siksaan terhadap majikannya. Ditambah lagi jika berbuat salah sedikit
ia langsung dianiaya. Dan pada suatu hari Sumarah mendapatkan pelecehan seksual
terhadap majikan pria nya. Ia diperkosa oleh majikannya sendiri. Sumarah pun
merasa kesal terhadap majikannya tersebut. Suatu ketika sumarah berfikiran
untuk membunuh majikannya yang telah memperkosanya. Jelas yang ia perbuat itu
merupakan kejahatan yang dapat merugikannya dan juga pasti akan mendapatkan
hukuman mati yang berlaku di Arab Saudi. Sumarah sudah siap akan hukuman yang
akan diterimanya.
Begitulah nasib TKW kita yang
mendapatkan siksaan dari majikannya. Seharusnya pemerintah lebih memperhatikan
nasib para TKI dan TKW yang berkerja diluar negeri. Karena meraka juga memiliki
HAM yang sepatutnya untuk dilindungi juga dari hukuman yang menimpanya. Dan
juga dari perusahaan yang harus lebih mengketat calon TKI dan TKW yang akan
diperkerjakan diluar negeri supaya komunikasi antar majikan dan juga pekerjanya
bisa lebih terjaga.
Pementasan tersebut ditutup dengan
pemeran yang mengakhiri pementasannya. Sungguh apik sekali yang sudah dibawakan
dari pementasan keduanya. Yang pertama dari pementasan Jaka Tarub dan juga
pementasan Monolog Balada Sumarah.