Nama
saya Winda yulia astuti, biasa dipanggil winda. Ayah saya yang bernama Washadi
dan ibu saya yang bernama Tuti Harningsih. Saya anak pertama dari 4 bersaudara,
adik pertama saya laki-laki satu-satunya yang paling ganteng bernama Izza Nur
Hidayatulloh dan sekarang berumur 15 tahun yang duduk d bangku SMP kelas 3 ,
Lalu adik saya yang kedua perempuan yaitu Ikfa Nur Ikhsani yang baru saja
menginjak di sekolah TPQ (Taman Pendidikan Al-Quran), dan adik terakhir saya
perempuan yang bernama Soleha Silmi Afiqo yang masih berumur 2 tahun, dimana
seorang anak kecil yang sedang lucu-lucunya. Saya lahir di sebuah kampung kecil
yang bernama Dumeling pada tanggal 13 Oktober 1997, dan sayadibesarkan oleh
kedua orang tua saya disana tepatnya di kecamatan Wanasari kabupatern Brebes.
Saya dilahirkan dari keluarga yang
sederhana. Ayah saya hanyalah seorang buruh tani, dimana jika ada orang yang
menyuruh beliau untuk bekerja di lahan sawahnya. Pendidikan ayah saya hanya SD
namun tidak sampai lulus berbeda dengan ibu saya yang pendidikannya taman SD,
sedangkan ibu saya hanya seorang ibu rumah tangga. Namun, walaupun walaupun
kami hidup sederhana tapi kamu hidup bahagia. Kedua orang tua kami mendidik
kami dengan baik dan alkhamdulillah meskipun kedua orang tua saya berpendidikan
rendah namun mereka memiliki keinginan yang tinggi untuk anaknya meraih
cita-cita, sampai kedua orang tua saya mampu menguliahkan saya. Saya bangga
dengan pengorbanannya dan saya sayang dengan mereka. karena tanpa mereka kami
tidak akan pernah tahu seperti apa bentuk dunia ini, tidak akan pernah tahu
seperti apa cinta dan kasih sayang darinya, dan tidak akan pernah merasakan
yang namanya hidup.
Hobi saya menulis, membaca novel,
cerpen, maupun komik. Saya senang menulis, sebagaimana mengungkapkan apa yang
ada di dalam hati dan fikiran. Saya pun senang membaca dimana saya membayangkan
dan juga ikut terjun dalam cerita tersebut, apa lagi membaca komik yang
memiliki gambar-gambar yang unik dan bagus, lebih ada warna lain ketika membaca
komik.
Awal pendidikan saya adalah TPQ
(Taman Pendidikan Al-Quran) tepatnya di TPQ Mambaul Ulum. Setelah 2 tahun lulus
dari TPQ dengan memegang juara 2, dengan bangga maju ke atas panggung ditonton
oleh para orang tua yang sedang menghadiri anaknya wisuda TPQ. Setelah selesai
sekolah di TPQ umur 5 tahun setengah masuk ke SD tepatnya di SD N Dumeling 2 ,
ketika kelas 2 SD mesuk ke sekolah madrasan diniyah tepatnya di madrasan
Azharul ulum, dimana sekolah madrasah diniyah itu dimulai pukul 13.00 atau
13.30 sampai pukul 16.00 atau 16.30. jadi pagi masuk SD kemudian sorenya lanjut
sekolah madrasah. Dimana TPQ, SD, dan madrasah diniyah masih dalam 1 desa
tempat tinggal saya. Selama sekolah diantar sekolah waktu awal-awal sekolah
saja, selanjutnya saya berangkat dengan tante yang juga sekolah barenga dengan
saya.
Akhirnya
pada tahun 2009 saya lulus sekolah dasar dan lanjut ke jenjang yang lebih
tinggi pada tahun tersebut. Saya memilih melanjutkan pendidikan ke SMP N 4 yang
masih berada di kecamatan wanasari namun beda desa. Pada hari pertama saya
masuk, saya sangat canggung dikarenakan jumlah siswa yang lebih banyak dari
jumlah siswa waktu saya sekolah dasar, tentunya memiliki krakter dan tingkah
laku yang beragam dan tidak semua orang baik disana, apa lagi saya tidak mengenal
mereka sama sekali kecuali tante saya namun tante berbeda kelas dengan saya,
waktu kelas 7 saya mendapatkan kelas B, dan tante saya mendapat kelas F
otomatis kelas B dan F itu memiliki jarak yang lumayan jauh dan harus melewati
beberapa kelas. Berbagai macam karakter orang yang telah saya temui, seperti
pemaksaan dan perokok khususnya siswa cowok. Pada umumnya mereka berangkat ke sekola menggunakan sepeda motor
milik orang tuanya, ada juga yang menggunakan sepeda, dan berjalan yang
rumahnya tidak jauh dengan sekolah. Saya dan tante kadang-kadang di antar oleh
om, kadang juga jalan kaki atau naik sepeda berboncengan dengan tante saya.
jarak sekolah ke rumah saya lumayan jauh karena memang beda desa. Selama saya
kelas 7 saya juga masih sekolah madrasah diniyah kelas 6, dimana itu tingkat
akhir sekolah madrasah, jadi harus bisa membagi waktu antara sekolah SMP dan
Madrasah.
Pada
tahun 2012 alkhamdulillah saya lulus dari SMP N 4 Wanasari dan mengambil ke
jenjang yang lebih tinggi lagi. Ketika akan mendaftar di salah satu SMA di
Brebes, keluarga sedang dilanda masalah sampai saya bingung harus melanjutkan
sekolah atau tidak, namuan saya memilih untuk mundur dan tidka melanjutkan
sekolah, tetapi orang tua tetap mendorong saya untuk mendaftar dan melanjutkan
sekolah di MAN 1 Brebes. Di sekolah itu saya mulai mengenakan jilbab karna
menang tuntutan dari sekolah dan saya sadar bahwa itu juga merupakan salah satu
kewjiban dalam Islam. Mengapa saya memilih MA karena saya ingin merasakan
sekolah di Aliyah, dan ingin memperdalam agama.
Sewaktu
kelas 10 saya mengikuti kegiatan ekstrakulikuler bela diri dan PMR yang begitu
saya gemari. Setiap minggunya saya dan tante saya mengikutikegiatan bela diri
dan PMR, namun tante tidak ikut PMR. Setelah sudah beberapa kali mengikut
kegiatan ekstrakulikuler bela diri tante berhenti, dan saya tetap lanjut, waktu
itu disuruh kakak kelas untuk membeli baju bela diri beserta sabuknya namun
saat itu juga saya tidak diperbolehkan oleh ayah untuk mengikuti bela diri
dikarenakan tante juga sudah tidak mengikuti kegiatan itu lagi, namun ibu
mendukung jika saya mengikuti bela diri, namun apalah daya saya harus tetap
nurut dengan ayah. Saat itu saya merassa tidak adil, kenapa apa-apa selalu
dengan tante, bahkan bela diripun berhenti karena tante sudah tidak mengikuti
lagi. Bela diri berhenti namun PMR tetap berjalan, ketika kelas 11 pertengahan
saya mudur dari PMR.
Pada
suatu waktu kelas 12 dimana UN (Ujian Nasional) datang, saya belajar dengan
sungguh-sungguh bahkan seminggu sebelum UN berlangsung agar mendapatkan nilai
yang bagus dan bisa lulus dari MAN karena saya tidak ingin mengecewakan kedua
orang tua saya yang telah bersusuah payah menyekolahkan saya saya sampai
sekarang dengan ikhlas tanpa mengharapkan belas kasihan apapun dari anaknya.
Selalu menyayangi dan memberikan yang terbaik untuk anaknya. Maka dari itu saya
harus memberikan yang terbaik utnuk mereka terutama pada ibu yang telah
mengandung saya selama 9 bulan dengan mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan
anaknya. Telah menyusui dan membesarkan saya dengan penuh kasih sayang yang
mana sampai saat ini saya tidak akan bisa membalas semua itu. Tapi saya akan
lakukan yang terbaik untuk membalas semua jasa yang telah diberikan kepada saya
dan saya anggap jasa yang telah diberikan kepada saya selama ini merupakan
hutang yang harus saya lunasi kepadanya, meskipun tidak akan pernah cukup.
Setelah
UN selesai dan mendapatkan surat
kelulusan saya ingin sekali melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi yaitu
kuliah, sebelum UN dilaksanakan ayah pernah memberikan pilihan kepada saya
setelah saya lulus dari MAN nanti mmau kemana kuliah, kerja, atau nikah, saya
lebih memilih untuk kuliah namun saya memikirkan biaya kuliah pasti sangat
besar sedangkan pekerjaan ayah hanyalah seorang buruh tani. Namun ayah selalu
menguatkan dan mendorong saya untuk kuliah, masalah biaya bisa sambil jalan,
karena ayah juga menginginkan anaknya bisa kuliah dan sukses agar masa depannya
tidak seperti beliau. Awalnya saya ingin menjadi seorang dokter namuan
sepertinya tidka mungkin karena waktu SMA saya mengambil jurusan IPS. Akhirnya
saya mendaftar di keperawatan karena saya memiliki keinginan untuk merawat
orang-orang yang sedang sakit, namun tidak lolos, lalu saya mendaftar SNMPTN
tidak lolos juga, kemudian mendaftar di UMPTKIN juga tidak lolos, lalu
mendaftar ujian mandiri di sebuan universitas islam di semarang masih juga
tidak lolos. Ahirnya saya menyerah karena semuanya tidak lolos, saya berfikir
mungkin saya bisa mencoba lagi di tahun depan. Tetapi ayah saya menyusuh saya
untuk mendaftar di UPGRIS, dimana ada tetangga yang kuliah disana, akhirnya
saya mendaftar disana.
Mendaftar
di UPGRIS dengan mengambil jurusan Bahasa Indonesia dan PGSD, alkhamdulillah
saya lolos di jurusan Bahasa Indonesia. Sebelumnya saya tes tertulis dan
wawancara diantar oleh om saya karena ayah sedang mengikuti ziarah kubur
bersama dengan bapak-bapak sekampungnya. Setelah dinyatakan diterima di UPGRIS
saya memiliki tekad dan niat yang besar untuk menjadi orang yang sukses dan
bisa membanggakan orang tua di masa yang akan datang. Satu impian yang paling
saya harapkan adalah kedua orang tua saya bisa naik haji dengan biaya anaknya.
Semoga dapat tercapai aamiin.