Sabtu, 24 Desember 2016

“Gagap Membaca Fakta”
           
            Saya akan menanggapi esai yang berjudul “Gagap Membaca Fakta” Menurut saya, saya setuju dengan tulisan yang ditulis oleh Riduan Situmorang seorang pendidik di Medan, pegiat literasi di Pusat Latihan Opera Batak (PLOB) Medan dan di Toba Writers Forum (TWF) yang diterbitkan di kompas pada hari Selasa, 27 September 2016 dengan judul “Gagap Membaca Fakta” dengan menggunakan judul terbsebut cukup menarik perhatian pembaca untuk membaca isi dari tulisan tersebut.
            Mengingat bahwa bangsa kita masih terpuruk, entah itu terpuruk dalam pendidikan, terpuruk dalam ekonomi dan lain-lain, tetapi justru kita gagal untuk membaca fakta itu. Mengingat sangat lemahnya pendidikan di negara kita, karena banyak anak-anak jalanan yang mengamen, meminta-minta dan sebagainya. Mereka tidak sekolah. Bahkan banyak pula siswa SD yang putus sekolah. Padahal, SD adalah fondasi pendidikan, jika SD saja sudah gagal, maka kedepannya kita tidak bisa berharap banyak. Belum lagi kalau di tingkat menengah, sudah pasti lebih banyak lagi yang gagal melanjutkan sekolah, apalagi di tingkat tiggi atau perguruan tinggi.
             Alasan yang paling sering kita dengar biasanya adalah masalah biaya. Biaya yang menjadi penghambat untuk dapat menyekolahkan anak-anaknya. Padahal setiap sekolah pasti ada bantuan berupa “Bantuan siswa tidak mampu” dan “Bantuan siswa berprestasi” dan di situ bisa untuk meringankan bebean atau biaya siswa-siswi yang tidak mampu. Belum lagi kita melihat di daerah-daerah terpecil yang  pendidikannya sangat mini sekali bukan hanya di daerah terpencil saja, di kota-kota besarpun banyak anak-anak yang tidak mengenyam pendidikan. Kita juga bisa melihat di sekitar kita  banyak anak-anak yang tidak sekola. Namun mereka malah bekerja membantu orang tuanya untuk mencari nafkah, alasan apara orang tuapun sama, karena mereka tidak mampu untuk membiayai anaknya sekoalh. Jadi mereka menyuruh anak-anaknya untuk membantu pekerjaan orang tua, utnuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka
            Banyak yang mengatakan “main tinggi pendidikan seseorang, semakin dia mampu mengangkat dirinya dari kemiskinan. Sebaliknya semakin rendah pendidikan seseorang, semakin dia akan jatuh ke dalam jurang kemiskinan”. Jika itu menjadi fakta, seharusnya fakta itu menjadi prioritas pendidikan di negara kita. Bila perlu pemerintah harus membuat akses dan biaya pendidikan itu mudah, dan murah bahkan gratis.
            Memang pada tahun 2015 Jokowi selaku Presiden Republik Indonesia sudah meluncurkan program wajib belajar 12 tahun. Bahkan ada banyak kartu yang mendukungnya. Seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP). Namun adanya Kartu Indonesia Pintar (KIP) tersebut sangat lemah. Kita justru mendengar bahwa satu-satunya sekolah gratis adalah sekolah abal-abal, minim fasilitas bahkan tanpa fasilitas.buktinya itu hanya teori belaka kalau praktik di lapangan sama sekali tidak sesuai dengan program atau jauh dari harapan yang dijalankannya.
            Ini saja sebenarnya cukup membuktikan kepada kita bahwa program wajib belajar 12 tahun hanyalah omong kosong saja. Sekolah gratis hanyalah pilihan paling rendah ketika pilihan lain tidak ada lagi. Karna sekolah gratis adalah sekolah kandang dengan minim fasilitas, minim guru, bahkan minim semangat. Ini tentu sangat menyedihkan sekali.
            Kita sadar diri untuk bisa melihat terutama di lingkungan kita apakah masih ada anak-anak yang tidak mengenyam pendidikan karena masalah biaya. Unutk mengenai sekolah harus ada daya tariknya, agar siswa semangat belajar dan termotivasi. Dan membuat suasana kegiatan belajar mengajar tidak membuat siswa menjadi tegang atau terlalu serius, tapi di buat santai agar siswa dapat cakap dalam memperhatikan, memhami, mendengar, dan melakukannya. Belajar yang menyenangkan dengan fasilitas dari sekolah yang sekarang serba modern agar siswa tidak merasa bosan.

            Keaktifan siswa, pembelajaran siswa harus didukung penuh oleh pemerintah, dan harus pula diarahkan sesuai dengan program kebijakan dengan pemerintah, agar terciptanya bibit SDM generasi bnagsa ynag mampu bersaing baik antara nasional maupun internasional. Apalagi dengan kondisi sekarang ini menghadapi MEA atau yang sering orang tau “pasar bebas” itu harusnya dimanfaatkan penting bagi pihak oknum pemerintah, baik di bidang studi maupun pekerjaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar