“Gagap
Membaca Fakta”
Saya akan menanggapi esai yang berjudul “Gagap Membaca
Fakta” Menurut saya, saya setuju dengan tulisan yang ditulis oleh Riduan
Situmorang seorang pendidik di Medan, pegiat literasi di Pusat Latihan Opera
Batak (PLOB) Medan dan di Toba Writers Forum (TWF) yang diterbitkan di kompas
pada hari Selasa, 27 September 2016 dengan judul “Gagap Membaca Fakta” dengan
menggunakan judul terbsebut cukup menarik perhatian pembaca untuk membaca isi
dari tulisan tersebut.
Mengingat bahwa bangsa kita masih terpuruk, entah itu
terpuruk dalam pendidikan, terpuruk dalam ekonomi dan lain-lain, tetapi justru
kita gagal untuk membaca fakta itu. Mengingat sangat lemahnya pendidikan di
negara kita, karena banyak anak-anak jalanan yang mengamen, meminta-minta dan
sebagainya. Mereka tidak sekolah. Bahkan banyak pula siswa SD yang putus
sekolah. Padahal, SD adalah fondasi pendidikan, jika SD saja sudah gagal, maka
kedepannya kita tidak bisa berharap banyak. Belum lagi kalau di tingkat
menengah, sudah pasti lebih banyak lagi yang gagal melanjutkan sekolah, apalagi
di tingkat tiggi atau perguruan tinggi.
Alasan yang paling
sering kita dengar biasanya adalah masalah biaya. Biaya yang menjadi penghambat
untuk dapat menyekolahkan anak-anaknya. Padahal setiap sekolah pasti ada
bantuan berupa “Bantuan siswa tidak mampu” dan “Bantuan siswa berprestasi” dan
di situ bisa untuk meringankan bebean atau biaya siswa-siswi yang tidak mampu.
Belum lagi kita melihat di daerah-daerah terpecil yang pendidikannya sangat mini sekali bukan hanya
di daerah terpencil saja, di kota-kota besarpun banyak anak-anak yang tidak
mengenyam pendidikan. Kita juga bisa melihat di sekitar kita banyak anak-anak yang tidak sekola. Namun
mereka malah bekerja membantu orang tuanya untuk mencari nafkah, alasan apara
orang tuapun sama, karena mereka tidak mampu untuk membiayai anaknya sekoalh.
Jadi mereka menyuruh anak-anaknya untuk membantu pekerjaan orang tua, utnuk
mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka
Banyak yang mengatakan “main tinggi pendidikan seseorang,
semakin dia mampu mengangkat dirinya dari kemiskinan. Sebaliknya semakin rendah
pendidikan seseorang, semakin dia akan jatuh ke dalam jurang kemiskinan”. Jika
itu menjadi fakta, seharusnya fakta itu menjadi prioritas pendidikan di negara
kita. Bila perlu pemerintah harus membuat akses dan biaya pendidikan itu mudah,
dan murah bahkan gratis.
Memang pada tahun 2015 Jokowi selaku Presiden Republik
Indonesia sudah meluncurkan program wajib belajar 12 tahun. Bahkan ada banyak
kartu yang mendukungnya. Seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP). Namun adanya
Kartu Indonesia Pintar (KIP) tersebut sangat lemah. Kita justru mendengar bahwa
satu-satunya sekolah gratis adalah sekolah abal-abal, minim fasilitas bahkan
tanpa fasilitas.buktinya itu hanya teori belaka kalau praktik di lapangan sama
sekali tidak sesuai dengan program atau jauh dari harapan yang dijalankannya.
Ini saja sebenarnya cukup membuktikan kepada kita bahwa
program wajib belajar 12 tahun hanyalah omong kosong saja. Sekolah gratis
hanyalah pilihan paling rendah ketika pilihan lain tidak ada lagi. Karna
sekolah gratis adalah sekolah kandang dengan minim fasilitas, minim guru,
bahkan minim semangat. Ini tentu sangat menyedihkan sekali.
Kita sadar diri untuk bisa melihat terutama di lingkungan
kita apakah masih ada anak-anak yang tidak mengenyam pendidikan karena masalah
biaya. Unutk mengenai sekolah harus ada daya tariknya, agar siswa semangat
belajar dan termotivasi. Dan membuat suasana kegiatan belajar mengajar tidak
membuat siswa menjadi tegang atau terlalu serius, tapi di buat santai agar
siswa dapat cakap dalam memperhatikan, memhami, mendengar, dan melakukannya.
Belajar yang menyenangkan dengan fasilitas dari sekolah yang sekarang serba
modern agar siswa tidak merasa bosan.
Keaktifan siswa, pembelajaran siswa harus didukung penuh
oleh pemerintah, dan harus pula diarahkan sesuai dengan program kebijakan dengan
pemerintah, agar terciptanya bibit SDM generasi bnagsa ynag mampu bersaing baik
antara nasional maupun internasional. Apalagi dengan kondisi sekarang ini
menghadapi MEA atau yang sering orang tau “pasar bebas” itu harusnya
dimanfaatkan penting bagi pihak oknum pemerintah, baik di bidang studi maupun
pekerjaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar