Sabtu, 24 Desember 2016

Assalamualaikum Wr.wb
Selamat malam juga pak Naka
            Saya Winda Yulia Astuti akan menanggapi surat dai pak Setia Naka Andrian. Suratnya begitu sangat menarik yang diawali dengan sapaan kepada mahasiswa, kemudian bertanya kabarpula kepada mahasiswa, dengan kata-kata yang cukup menarik untuk dibaca oleh mahasiswa. Sebenarnya surat itu tidak mendadak juga karena sebelumnya pak Naka sendiri sudah memberitahukan kepada mahasiswa bahwa pak Naka akan memberi surat untuk mahasiswa entah apapun itu isinya. Jadi ketika surat itu dibagikan dan samapai kepada tangan mahasiswa, mahasiswa juga tidak terlalu kaget-kaget banget hehehe.
Ketika saya membaca surat dari pak Naka pada bagian “surat ini saya buat dalam kondisi yang muram, pada saat selepas  bangun tidur, selepas shalat subuh, ketika masih ada sisa adzan yang terngiang di dada” pada bagian itu saya agak merasa tidak percaya, namun saya berusaha untuk percaya , karena di surat itu juga ditulis bahwa pak Naka sendiri ”tidak bisa berbohong jika itu untuk kalian (mahasiswa) semua. Kaena sepertinya kebohongan adalah sebagian kecil dariupaya besar untuk kehancuran kita yang akan datang”.
Pada bagian “selama 18-20 Oktober 2016, saya harus menghadiri musyawarah sastrawan di Badan Bahasa Jakarta. Mulai sejak Senin siang, sekitar pukul 14.00 saya dan beberapa teman dari wakil Jawa Tengah naik pesawat dari Stasiun Poncol, di perkirakan akan mendarat sekitar pukul 20.00 di Stasiun Pasar Senen”. Perasaan di stasiun poncol ke pasar senen itu kereta api, tapi kenapa Pak Naka naiknya pesawat. Pesawat dari mananya pak?. Pak Naka tahu saja kalau mahasiswa sering makan indomie. Maklum lah pak buat pengiritan,tapi biasanya maahasiswa makan indomie kalau uang sedang menipis.
Saya tahu tujuan pak Naka menyuruh mahasiswa untuk membaca, untuk membaca, untuk membeli buku, untukmembaca koran, untuk membaca majalah dll. Itu tujuannya agar mahasiswa tahu lingkunga luar, dunia luar, atau agar mahasiswa tahu informasi atau berita-berita apa saja yang ada di koran atau majalah. Dan tentunya agar mahasiswa ketika setelah membaca dapat menemukan ide u untuk ditulis dan kalau bisa dimuat di koran atau majalah. Walaupun pada kenyataannya banyak mahasiswa yang biasa-biasa saja. Dan hanya beberapa saja mahasiswa yang mendapatkan ide untuk menulis opini atau apa saja yang diniatkan untuk dimuat di salah satu koran.
Memang dengan membaca kita dapat menemukan atau memperoleh hal-hal atau ide-ide  yang baru. Seperti kemarin hari Rabu,19 Oktober 2016.  pada acara UPGRIS Bersastra, pak Triyanto Triwikromo yang belajar menulis dengan pak Pras. Sampai pak Pri dapat menerbitkan tulisannya di sebuah koran Kompas. Dan sampai saat ini Pak Tri menjadi seorang penulis yang besar dan sukses.
Unutk masalah mencuci baju, benar sekali pak saya baju saja selesai mencuci baju. Untuk bersih-bersih kosan benar sih tapi lebih tepatnya bersih-bersih kamar kos. Tapi kalau yang baru saja mengantar pacar beli makan malam, itu tidak benar sama sekali untuk saya pak, karena saya jomblo, tapi lebih tepatnya saya single hehehe.
Semenjak saya SMA, jauh hari sebelum datangnya Ujian Nasional, ayah saya memberi tiga pilihan unutk saya setelah lulus dari SMA. Pilihannya yaitu saya akan lanjut kuliah, atau ingin bekerja, atau ingin menikah. Dan saya langsung dengan spontan menjawab bahwa saya ingin kuliah, tapi tergantung orang tua yang mampu membiayai saya untuk kuliah atau tidak. Jika tidak mampu saya memilih utnuk bekerja saja. Namun ayah saya menyanggupi bila saya kuliah walaupun dengan bekerja keras, banting tulangpun ayah lakoni untuk biaya kuliah saya nantinya. Dan ternyata itulah yang diharapkan oleh ayah saya. Ayah sayapun mendorong semangat saya untuk kuliah. Namun berbeda dengan Ibu saya yang menginginkan saya untuk bekerja saj, tapi ayah saya tetap mendorong semangat saya untuk kuliah. Karena ayah mengharapkan anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan yang tinggi dan menjadi orang yang sukses. Apalagi saya sebagai anak pertama yang mempunyai 3 adik. Tuntutan orng tua untuk saya sukses sangatlah tinggi, karena Saya harus menjadi contoh yang baik buat adik-adik saya. Dan sampai saat ini pun ayah selalu memotivasi saya untuk kuliah yang benar, yang semangat dll. Dan untuk Ibu pun akhirnya mengizinkan saya untuk kuliah dan Ibu juga memotivasi saya dan memberi saya semangat untuk belajar.
Yang memotivasi saya untuk kuliah lebih giat lagi yaitu dengan nasihat-nasihat dari orang tua. ini juga adalah cita-cita saya untuk menjadi guru, menaik hajikan kedua orang tua dan tentunya membuat orang tua bahagia. Membalas apa yang telah mereka kasih kepada saya walaupaun balasan nantinya tak seberapa.
Memang banyak orang yang mampu menilai atau memahami orang lain. Namun cukup sulit untuk menilai diri sendiri. Termasuk saya sendiri. Jika ada yang bertanya “kamu orangnya bagaimana sih?” pertanyaan itu yang membuat bibir saya mendadak kaku, dan tak dapat mengungkapkan sepatah katapun mengenai diri saya. Sampai saat inipun saya belum menemukan bakat yang terpendam dalam diri saya, saya belum menemukan jati diri saya. Jujur untuk mengungkapkan gagasan atau ide dan bertanyapun saya belum terlalu bisa menyusun kata-kata yang baik. Agar menjadi pertanyaan yang bagus, tidak monoton atau yang berkualitas.

Untuk masalah tugas kuliah yang selalu berdatangan secara sendiri2 atau berbondong-bondong itu memang suddah biasa dan itu juga kewajiban setiap mahasiswa. Dan kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa itu juga salah satu kewajibannya karena dia sendiri yang memilih utnuk mengikuti kegiatan di dalam maupun di luar kampus.
“Gagap Membaca Fakta”
           
            Saya akan menanggapi esai yang berjudul “Gagap Membaca Fakta” Menurut saya, saya setuju dengan tulisan yang ditulis oleh Riduan Situmorang seorang pendidik di Medan, pegiat literasi di Pusat Latihan Opera Batak (PLOB) Medan dan di Toba Writers Forum (TWF) yang diterbitkan di kompas pada hari Selasa, 27 September 2016 dengan judul “Gagap Membaca Fakta” dengan menggunakan judul terbsebut cukup menarik perhatian pembaca untuk membaca isi dari tulisan tersebut.
            Mengingat bahwa bangsa kita masih terpuruk, entah itu terpuruk dalam pendidikan, terpuruk dalam ekonomi dan lain-lain, tetapi justru kita gagal untuk membaca fakta itu. Mengingat sangat lemahnya pendidikan di negara kita, karena banyak anak-anak jalanan yang mengamen, meminta-minta dan sebagainya. Mereka tidak sekolah. Bahkan banyak pula siswa SD yang putus sekolah. Padahal, SD adalah fondasi pendidikan, jika SD saja sudah gagal, maka kedepannya kita tidak bisa berharap banyak. Belum lagi kalau di tingkat menengah, sudah pasti lebih banyak lagi yang gagal melanjutkan sekolah, apalagi di tingkat tiggi atau perguruan tinggi.
             Alasan yang paling sering kita dengar biasanya adalah masalah biaya. Biaya yang menjadi penghambat untuk dapat menyekolahkan anak-anaknya. Padahal setiap sekolah pasti ada bantuan berupa “Bantuan siswa tidak mampu” dan “Bantuan siswa berprestasi” dan di situ bisa untuk meringankan bebean atau biaya siswa-siswi yang tidak mampu. Belum lagi kita melihat di daerah-daerah terpecil yang  pendidikannya sangat mini sekali bukan hanya di daerah terpencil saja, di kota-kota besarpun banyak anak-anak yang tidak mengenyam pendidikan. Kita juga bisa melihat di sekitar kita  banyak anak-anak yang tidak sekola. Namun mereka malah bekerja membantu orang tuanya untuk mencari nafkah, alasan apara orang tuapun sama, karena mereka tidak mampu untuk membiayai anaknya sekoalh. Jadi mereka menyuruh anak-anaknya untuk membantu pekerjaan orang tua, utnuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka
            Banyak yang mengatakan “main tinggi pendidikan seseorang, semakin dia mampu mengangkat dirinya dari kemiskinan. Sebaliknya semakin rendah pendidikan seseorang, semakin dia akan jatuh ke dalam jurang kemiskinan”. Jika itu menjadi fakta, seharusnya fakta itu menjadi prioritas pendidikan di negara kita. Bila perlu pemerintah harus membuat akses dan biaya pendidikan itu mudah, dan murah bahkan gratis.
            Memang pada tahun 2015 Jokowi selaku Presiden Republik Indonesia sudah meluncurkan program wajib belajar 12 tahun. Bahkan ada banyak kartu yang mendukungnya. Seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP). Namun adanya Kartu Indonesia Pintar (KIP) tersebut sangat lemah. Kita justru mendengar bahwa satu-satunya sekolah gratis adalah sekolah abal-abal, minim fasilitas bahkan tanpa fasilitas.buktinya itu hanya teori belaka kalau praktik di lapangan sama sekali tidak sesuai dengan program atau jauh dari harapan yang dijalankannya.
            Ini saja sebenarnya cukup membuktikan kepada kita bahwa program wajib belajar 12 tahun hanyalah omong kosong saja. Sekolah gratis hanyalah pilihan paling rendah ketika pilihan lain tidak ada lagi. Karna sekolah gratis adalah sekolah kandang dengan minim fasilitas, minim guru, bahkan minim semangat. Ini tentu sangat menyedihkan sekali.
            Kita sadar diri untuk bisa melihat terutama di lingkungan kita apakah masih ada anak-anak yang tidak mengenyam pendidikan karena masalah biaya. Unutk mengenai sekolah harus ada daya tariknya, agar siswa semangat belajar dan termotivasi. Dan membuat suasana kegiatan belajar mengajar tidak membuat siswa menjadi tegang atau terlalu serius, tapi di buat santai agar siswa dapat cakap dalam memperhatikan, memhami, mendengar, dan melakukannya. Belajar yang menyenangkan dengan fasilitas dari sekolah yang sekarang serba modern agar siswa tidak merasa bosan.

            Keaktifan siswa, pembelajaran siswa harus didukung penuh oleh pemerintah, dan harus pula diarahkan sesuai dengan program kebijakan dengan pemerintah, agar terciptanya bibit SDM generasi bnagsa ynag mampu bersaing baik antara nasional maupun internasional. Apalagi dengan kondisi sekarang ini menghadapi MEA atau yang sering orang tau “pasar bebas” itu harusnya dimanfaatkan penting bagi pihak oknum pemerintah, baik di bidang studi maupun pekerjaan.
                                                                       
                               Jaka Tarub dan Balada Sumarah
            Cerita rakyat Jaka Tarub sudah sangat melekat di benak dan pikiran rakyat Indonesia. Sudah tak asing lagi bagi rakyat Indonesia tentang cerita tersebut. Banyak khalayak yang sangat gemar dan suka cerita tersebut. Cerita tersebut sudah sering dipentaskan lewat televisi bahkan juga lewat teater yang diperankan oleh mahasiswa di sebuah universitas.
            Kemarin malam, Selasa (4/10) Gedung Pusat Lantai 7 Universitas PGRI Semarang diramaikan pementasan Teater Jaka Tarub dan  Monolog Balada Sumarah yang diperankan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Teater Gema. Sekitar dua ratus penonton berdatangan dengan langkah bersemangat turun dari lift.  Sampai diruangan semua mata tertuju pada panggung pemeranan yang ditata apik oleh crew yang bertugas.
            Lampu diruangan mulai gelap pertanda pementasan teater akan dimulai. Pementasan teater ini diawali dengan teriakan mimpi seorang lelaki tua, pasti kalian sudah tau siapa nama lelaki itu. Ya benar sekali nama lelaki itu Jaka Tarub. Teriakannya membuat gadis cantik jelita kaget dan membangunkannya dari mimpi itu. Gadis cantik itu ialah anaknya yang bernama Nawang Asih. Jaka Tarub sangat merindukan istri yang dicintainya.
            Pementasan pertama sangat menggugah hati penonton untuk melihat cerita ini lebih lanjut. Teriakan menggema seketika 7 Bidadari cantik keluar dari khayangan dan mandi di air telaga. Alur mundur yang digunakan pada pementasan ini sangat menarik. Ketika Jaka Tarub mengambil selendang dari Bidadari tertua yang bernama Nawang Wulan. Nawang Wulan berkata “ andai ada orang yang bisa menemukan selendang dan pakaianku, jika itu perempuan akan aku jadikan saudara dan jika itu laki-laki akan ku jadikan suami. Mendengar hal itu alangakah senangnya Jaka Tarub. Dia berlagak seperti pahlawan kesiangan yang membawakan pakaian untuk Nawang Wulan. Hingga akhirnya mereka menikah dan mempunyai seorang anak perempuan yang cantik jelita bernama Nawang Asih.
            Kemeriahan masih berlangsung harmonis. Riuh canda tawa penonton mengiringi pementasan teater Jaka Tarub.  Kemeriahan semakin pecah ketika disisipi penampilan dari tiga pemain lawakan berpostur tubuh gemuk. Penonton menyimak setiap adegan yang diperankan dengan seksama seakan tidak mau ketinggalan sedetikpun adegan yang diperankan oleh ketiga pemain tersebut. Banyak celotehan lucu yang membuat perut penonton kaku dibuatnya.
            Suasana seketika kembali hening setelah lampu pementasan dimatikan. Ruangan menjadi gelap gulita tanpa ada penerangan. Pencahayaan lampu yang bagus dan keren. Lampu kembali terang seperti semula. Pemain teater mulai memposisikan diri. Terlihatlah Jaka Tarub dan Nawang Wulan sedang bercengkrama diteras rumahnya. Nawang Wulan berpamitan kepada Jaka Tarub pergi ke sungai untuk mencuci pakaian. Nawang Wulan berpesan kepada Jaka Tarub bahwa jangan pernah mencoba membuka penanak nasi yang dimasak Nawang Wulan. Namun, apa yang terjadi pesan itu dilanggar Jaka Tarub. Ketika Nawang Wulan kembali masuk ke dalam rumah. Dia mengambil padi dan menemukan selendangnya di lumbung padi. Ternyata yang menyembunyikan selendang itu tak bukan dan tak lain ialah suaminya sendiri yaitu Jaka Tarub. Nawang Wulan marah besar dan pergi kembali ke khayangan meninggalkan Jaka Tarub bersama anaknya di bumi.
            Penonton seperti diajak sutradara ke masa lampau dengan alur cerita yang mudur. Kini hanyalah penyesalan yang ditanggung dan dirasakan oleh Jaka Tarub karena sudah mencuri selendang dan melanggar janji kepada Nawang Wulan. Keriduan Jaka Tarub dan Nawang Asih terhadap Nawang Wulan, kini mereka hanya bisa melihat dan memandangi bulan. Karena mereka percaya di tempat itulah Nawang Wulan berada.
            Riuh tepuk tangan penonton semakin menggema. Pertanda cerita Jaka Tarub sudah berakhir. Memang kebohongan yang paling menyakitkan itu kebohongan yang terlontar dari orang yang sangat kita cintai. Melalui, teater ini kita dapat menyuarakan pentingnya warisan cerita rakyat yang ada di negeri ini. Jangan sampai punah dan hilang. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak akan pernah melupakan sejarah bangsanya.














                                                           
                                    Monolog Balada Sumarah
            Setelah hampir dua jam lamanya, penonton dimanjakan dengan pentas teater Jaka Tarub yang menakjubkan. Sekarang penonton seperti diberi hidangan hangat di malam hari yang dingin. Monolog Balada Sumarah yang diperankan oleh wanita berpostur tubuh semampai memakai gamis warna putih dan berkerudung sangat menarik perhatian penonton. Semua mata dimanjakan dengan penampilannya yang menawan. Mulai dari gaya bicara, gerak-geriknya yang lincah, dan dia juga pandai memainkan lirikan matanya. Semangat penonton masih menggebu-gebu melihat pementasan Monolog Balada Sumarah.
            Balada Sumarah menceritakan tentang perjalanan hidup seorang tenaga kerja wanita bernama Sumarah yang ayahnya dituduh sebagai aktivis PKI. Dengan embel-embel PKI dia tidak bisa melamar pekerjaan di negaranya sendiri. Ijazahnya pun yang selama ini dia kumpulkan tak terpakai dan terbuang sia-sia. Hingga akhirnya dia menjadi TKW di Arab Saudi. Dia membunuh majikannya sendiri sebagai rasa pembelaan terhadap dirinya.
            Sumarah seorang perempuan, seorang TKW, seorang pembunuh, dan seorang pesakitan. Bentuk diskriminasi terhadap perempuan hingga saat ini masih sering terjadi. Tidak bisa dipungkiri anggapan bahwa seorang perempuan itu wanita yang lemah menjadi stigma dalam diri perempuan. Meskipun sudah ada emansipasi wanita, hak pendidikan wanita dan laki-laki sama. Namun, kenyataanya wanita masih dianggap rendah dari laki-laki. Pola pikir yang seperti ini seharusnya diubah. Perempuan wajib berkarya sesuai dengan kemampuan dan yang terpenting tidak melupakan kodratnya sebagai seorang wanita.

            Lampu panggung pementasan semakin terang mengakhiri pementasan Monolog Balada Sumarah. Kembali diselingi tepuk tangan penonton yang semakin meriah.
TEATER JAKA TARUB DAN BALADA SUMARAH
Oleh:Winda Yulia Astuti
            Teater Yang berjudul Jaka Tarub yang diperankan oleh mahasiswa Universitas PGRI Semarang. Cukup memukau dilihat dari segi penataan ruang dan pemeran utama  yaitu Jaka Tarub dan Nawangwulan. Yang di pentaskan selasa, 4 Oktober 2016 pukul 15.00 dan 19.00 tepatnya dua kali pementasan. Untuk penataan panggung juga sudah bagus. Di muali dari rumah yang menggunakan geribik yang dianyam dengan sedemikian rupa, mampu dijadikan sebuah rumah pementasan.
            Untuk danau dan batu-batu yang ada di samping danau juga sudah bagus pembuatannya terutama batu yang cukup besar untuk menaruh selendang tujuh bidadari. Kemudian semak-semak yang dipenuhi dengan rumput yang menandakan bahwa itu memang semak-semak. Lalu untuk desain awan yang ada di langit juga sudah cukup menarik. Untuk lampu-lampunya juga bagus sudah tepat dengan penjuruannya. Untuk para pemainnya juga sudah bagus, dari mulai kostum yang di kenanakan oleh Jaka Tarub dan bidadari-bidadari. Dan untuk akting, mereka sudah cukup mahir dalam berakting, karena sudah kelihatan mereka tidak seperti menghafal ketika mereka bergilir masuk ke TKP.
            Suasana dalam pementasan sudan cukup mendukung. Pemerannya begitu apik saat memerankan perannya masing-masing, keromantisannya sudah didapatkan ketika pemain Jaka Tarub dengan Nawangwulan melakukan perannya dengan baik. cukup menarik pula ketika di tengah-tengah memainkan teaer, terdapat guyonan-guyonan yang sangat jauh topiknya dengan judul “Jaka Tarub”. Namun di situ sangat bagus karena dapat menghibur penonton dengan comedi yang di selipkan di tengah-tengah teater tersebut.
            Saya menonton teater “Jaka Tarub” merasa terbawa suasana, saya merasa hidup di dalam teater tersebut, dan saya merasa ada di dalam teater tersebut, merasa hidup dalam teater Jaka Tarub.
Jaka Tarub adalah seorang pemuda dari desa yang mempunyai rupa yang rupawan. Jaka Tarub bermimpi menikah dengan seorang bidadari yang sangat cantik jelita. Ketika ia terbangun dari tidurnya ia sadar bahwa itu hanyalah sebuah bunga tidur (mimpi). Mengapa Jaka Tarub merasa yakin bahwa dirinya bisa menikah dengan seorang bidadari dari khayangan yang cantik jelita tersebut karena di setiap bulan purnama Jaka Tarub selalu bermimpi sama sperti halnya yang dimimpikan semalam. Kemudian ia teringat ibunya yang sudah meninggal, karena semenjak ibunya masih hidup, ibunya memiliki satu permintaan yang sampai saat ini, sampai ibunya sudah meninggal belum terlaksana.
Jaka Tarub justru lebih banyak melamun dan Jaka Tarub merasa sangat lelah dan ingin beristirahat.memang, itulah pekerjaan Jaka Tarub setiap harinya yang memburu hewan, jika Jaka Tarub mendapatkan hewan buruan tidak hanya utnuk dirinya sendiri tapi pasti buruannya di bagikan kepada tentangga-tetangganya.
Jaka Tarub memperhatikan satu persatu gadis yang ada di danau tersebut. Semuanya berparas cantik jelita layaknya seperti bidadari dari khayangan. Dari percakapan gadis-gadis tersebut Jaka Tarub sekilas mendengar bahwa mereka adalah bidadari dari khayangan. Kemudian Jaka Tarub berfikir jika yang di alami sekarang adalah jawaban dari mimpi yang selama bulan pernama Jaka. Tapi it bukanlah sebuah hayalan semata. Yang dilihat oleh Jaka Tarub itu memang benar-benar nyata.
Jaka Tarub melihat tumpukan selendang bidadari di atas sebuah batu yang bersar di pinggir danau tersebut. Setiap selendang itu memiliki warna yang  berbeda-beda. Jaka Tarub berfikir jika Jaka arub mengambil salah satu selendang milik bidadari itu, tentu yang punya selendang itu tidak Tarub selalu bermimpi menikah dengan seorang bidadari yang cantik jelita dari khayangan. dapat kembali ke khayangan. Jaka Tarub senyum-senyum sendiri, karena membayangkan jika salah satu dari bidadari itu mau di jadikan istri oleh Jaka Tarub. Perlauan Jaka Tarub mungkin bisa dikatakan jahat namun, agar Jaka Tarub bisa menikah dengan salah satu dari bidadari yang cantik jelita dari khayangan tersebut, apapun akan Jaka Tarublakukan, walaupun itu bisa membuat salah satu dari bidadari itu tidak bisa kembali pulang ke khayangan dan tetap tinggal di bumi bersama Jaka Tarub
Jaka arub mengambil salah satu selendang milik bidaddari tersebut. Tiba-tiba salah seorang dari bidadari mengatakan bahwa hari sudah mulai sore, maka mereka harus kembali pulang ke khayangan sebelum matahari terbenam. Para bidadari itupun menyetujui pendapat saudaranya, kemudian mereka keluar dari danau dan mereka mengenakan selendang masing-masing. Ada salah seorang bidadari yang kebingungan mencari selendangnya, salah seorang bidadari yang kehilangan selendang itu ingin sekali rasanya menangis, karena takut tidak bisa kembali pulang ke khayangan. bidadari itu bernama Nawangwulan.
Akhirnya Nawangwulan berkata kepada adik-adiknya bahwa adik-adiknya harus kembali pulang ke khayangan sebelum matahari terbenam. namun adik-adik Nawangwulan tidak mau meninggalkan Nawangwulan sendirian di bumi. Tetapi Nawangwulan tetap meyuruh adik-adiknya utnuk segera kembali pulang ke khayangan. Untuk meyakinkan adik-adiknya Nawangwulan berjanji bhawa Nawangwulan tidak apa-apa apabila ditinggal sendirian di bumu, jika  selendang Nawangwulan sudah ketemu Nawangwulan berjanji untuk segera kembali pulang ke khayangan.  tngMerekapun memelik Nawangwulan, seakan mereka tidak rela meninggalkan Nawangwulan seorang diri di bumi.
Ke 6 bidadari itu pun terbang kembali pulang ke khayangan meninggalkan Nawangwulan,  tidak bisa berbuat apa-apa. Nawangwulan hanya bisa mengangguk dan melambaikan tangan kepada ke 6 adiknya yang terbang perlahan meninggalkan danau dan Nawangwulan. Nawangwulan sangat sedih sekali dan  Nawangwulan berfikir kalau itu sudah nasib Nawangwulan untuk menjadi penghuni bumi. sambil Nawangwulan mencucurkan air mata, karena tidak bisa menemukan selendang itu dan tidak bisa kembali pulang ke khayangan bersama adik-adiknya.
Nawangwulanpun ingat bahwa sebelumnya dirinya pernah berjanji kepada dirinya sendiri apa bila ada yang memberikan ia pakaian maka ia jadikan saudara apa bila ia perempuan, namun apa bila ia seorang laki-laki maka ia akan dijadikan suami. Dan Nawangwulanakan menepati janjinya dengan mau menjadikan Jaka Tarub sebagai suaminya. Padahal seorang bidadari tidak boleh jatuh cinta dengan manusia apa lagi menikah dengan manusia. Namun bagaimana lagi Nawangwulan sebelmnya pernah berjanji kapada dirinya sendiri bahwa Nawangwulan akan menjadikan seorang laki-laki yang memberikan pakaian kepada Nawangwulan. Akhirnya Nawangwulan tanpa ragu bersedia menerima Jaka Tarub sebagai suaminya. Dan merekapun pulang ke rumah Jaka Tarub. namun sebelumnya Nawangwulan bagaimana bingung jika tetangga Jaka trub menanyakan asal usul Nawangwulan, tidak mungkin Jaka Tarub mengatakan hal yang sebenarnya bahwa Nawangwulan adalah seorang bidadari dari khayangan. Akhirnya Jaka Tarub mempunyai ide, jika tetangga Jaka Tarub menanyakan tentang asal usul Nawangwulan, Jaka Tarub akan menjawab kepada tetangganya, bahwa Nawangwulan itu berasal dari desa yang sangat jauuuh sekali. Akhirnya mereka pulang untuk merencanakan pernikahan Jaka Tarub dengan Nawangwulan.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, Jaka Tarub dan Nawangwulan yang sudah menikah tak terasa sekarang Nawangwulan sedang hamil tua. anak dari Jaka Tarub. Ketika mereka duduk di depan rumah,  dan Nawangwulan yang sedang ngobrol tentang kehamilannya dan merencanakan siapa nama anaknya kelak. beberapa saat kemudian perut Nawangwulan terasa sangat sakit seperti akan melahirkan. Jaka Tarub langsung memanggil dukun bayi yang dapat membantu proses kelahiran istrinya. Dengan rasa gugup, panik, takut, dan bahagia perasaan Jaka Tarub sudah campur aduk menjadi satu.Setelah Jaka Tarub mendengar suara bayi menangis, Jaka Tarub langsung mengucapkan puji syukur dan langsung masuk ke rumah untuk melihat keadaan istrinya dan anaknya. Jaka Tarub dan Nawangwulan telah dikaruniai seorang putri yang diberi nama Nawangsih.
Panen yang di peroleh secara teratur membuat lumbung lumbung padi mereka hampir tak muat lagi utnuk menampungnya.
Pada suatu pagi, Nawangwulan hendak mencuci ke sungai dan menitipkan Nawangsih pada Jaka Tarub. Nawangwulan juga mengingatkan pada suaminya (Jaka Tarub) itu utnuk tidak membuka tutup kukusan nasi yang sedang dimasaknya. Ketika Jaka Tarub sedang asyik bermain dengan Nawangsih yang saat itu umurnya masih 1 tahun, Jaka Tarub teringat dengan nasi yang sedang dimasak istrinya karena terasa sudah lama, Jaka Tarub hendak melihat apakah nasi itu sudah matang atau belum. Tanpa sadar jaka tarub membuka kukusan nasi itu dan lupa akan pesan istrinya. Betpa terkejutnya Jaka Tarub setelah melihatisi kukusan itu. Nawangwulan hanya masak setangkai padi. Jaka Tarubpun langsung teringat akan persediaan padi mereka yang semakin lama semakin banyak. Terjawab sudah pertanyaannya selama ini.
Nawangwulan yang rupanya telah sampai di rumah, setelah Nawangwulan masuk ke dapur, Nawagwulan menatap marah kepada Jaka Tarub, karena Jaka Tarub sudah melanggar pesan Nawangwulan. Kemudian Nawangwulan bertanya kepada Jaka Tarub, kenapa Jaka Tarub mengingkari pesan Nawangwulan. Kemudian Jaka Tarub tidak bisa menjawab dan hanya bisa terdiam. Kemudian Nawangwulan berkata lagi bahwa hilang sudah kesaktian Nawangwulan utnuk merubah setangkai padi menjadi sebakul nasi. Jaka Tarub sangat menyesal karena sudah mengingakri pesan istrinya, tapi apa yang mau dikatakan lagi
. Ketika sedang menarik batang padi yang tersisa tinggal sedikit itu, Nawangwulan merasa tangannya memegang sesuatu yang lembut. Karena penasaran, Nawangwulan terus menarik benda itu. Wajah Nawangwulan seketika pucat pasi menatap benda yang baru saja berhasil diraihnya. Baju bidadari dan selendangnya yang berwarna merah.. !!
            Jaka Tarub menahan kesedihannya dengan sangat. Ia ingin terlihat tegar. Setelah Jaka Tarub menyatakan kesanggupannya untuk tidak bertemu lagi dengan Nawangwulan, sang bidadaripun terbang meninggalkan dirinya dan Nawangsih. Jaka Tarub hanya sanggup menatap kepergian Nawangwulan sambil mendekap Nawangsih. Sungguh kesalahannya tidak termaafkan. Tiada hal lain yang dapat dilakukannya saat ini selain merawat Nawangsih dengan baik seperti pesan Nawangwulan.

Pada pementasan yang kedua yang berjudul Monolog Balada Sumarah. Pada pementasan kali ini sangat begitu menarik karena yang berperan hanya satu orang, yaitu sosok wanita seperti judulnya. Sumarah ini adalah seorang wanita asal Indonesia yang merupakan anak dari ayah yang merupakan golongan PKI yang saat itu sedang buming. Sumarah ini merasa tidak terima diperlakukannya seperti itu,misalnya dikucilkan dan dijauhi oleh teman-temannya semasa ia sekolah sampai lulus SMA. Untuk mencari pekerjaan yang layak pun sumarah merasa kesulitan karena ia adalah anak dari seorang golongan PKI. Padahal saat itu ayahnya tidak mengikuti PKI. Tetapi kenapa ayahnya bisa termasuk dalam golongan PKI tersebut. Setelah itu Sumarah nekat untuk mendaftar bekerja diluar negeri atau istilahnya TKW. Ia mendaftar ke kantor yang mengurus TKW. Supaya administrasi berjalan dengan lancar maka yang dilakukan ialah dengan jalan belakang dengan adanya uang. Karena jaman sekarang jika urusan akan lancar maka uang pun juga harus lancar. Acara ini Sumarah lakukan supaya administrasi bisa diurus tanpa adanya kendala.
            Maka pergilah ia ke Arab Saudi, pikirnya ia disana akan mendapatkan penghasilan yang banyak tetapi ia disana mendapatkan siksaan terhadap majikannya. Ditambah lagi jika berbuat salah sedikit ia langsung dianiaya. Dan pada suatu hari Sumarah mendapatkan pelecehan seksual terhadap majikan pria nya. Ia diperkosa oleh majikannya sendiri. Sumarah pun merasa kesal terhadap majikannya tersebut. Suatu ketika sumarah berfikiran untuk membunuh majikannya yang telah memperkosanya. Jelas yang ia perbuat itu merupakan kejahatan yang dapat merugikannya dan juga pasti akan mendapatkan hukuman mati yang berlaku di Arab Saudi. Sumarah sudah siap akan hukuman yang akan diterimanya.
            Begitulah nasib TKW kita yang mendapatkan siksaan dari majikannya. Seharusnya pemerintah lebih memperhatikan nasib para TKI dan TKW yang berkerja diluar negeri. Karena meraka juga memiliki HAM yang sepatutnya untuk dilindungi juga dari hukuman yang menimpanya. Dan juga dari perusahaan yang harus lebih mengketat calon TKI dan TKW yang akan diperkerjakan diluar negeri supaya komunikasi antar majikan dan juga pekerjanya bisa lebih terjaga.
            Pementasan tersebut ditutup dengan pemeran yang mengakhiri pementasannya. Sungguh apik sekali yang sudah dibawakan dari pementasan keduanya. Yang pertama dari pementasan Jaka Tarub dan juga pementasan Monolog Balada Sumarah.


TEATER JAKA TARUB DAN BALADA SUMARAH
Oleh:Winda Yulia Astuti
            Teater Yang berjudul Jaka Tarub yang diperankan oleh mahasiswa Universitas PGRI Semarang. Cukup memukau dilihat dari segi penataan ruang dan pemeran utama  yaitu Jaka Tarub dan Nawangwulan. Yang di pentaskan selasa, 4 Oktober 2016 pukul 15.00 dan 19.00 tepatnya dua kali pementasan. Untuk penataan panggung juga sudah bagus. Di muali dari rumah yang menggunakan geribik yang dianyam dengan sedemikian rupa, mampu dijadikan sebuah rumah pementasan.
            Untuk danau dan batu-batu yang ada di samping danau juga sudah bagus pembuatannya terutama batu yang cukup besar untuk menaruh selendang tujuh bidadari. Kemudian semak-semak yang dipenuhi dengan rumput yang menandakan bahwa itu memang semak-semak. Lalu untuk desain awan yang ada di langit juga sudah cukup menarik. Untuk lampu-lampunya juga bagus sudah tepat dengan penjuruannya. Untuk para pemainnya juga sudah bagus, dari mulai kostum yang di kenanakan oleh Jaka Tarub dan bidadari-bidadari. Dan untuk akting, mereka sudah cukup mahir dalam berakting, karena sudah kelihatan mereka tidak seperti menghafal ketika mereka bergilir masuk ke TKP.
            Suasana dalam pementasan sudan cukup mendukung. Pemerannya begitu apik saat memerankan perannya masing-masing, keromantisannya sudah didapatkan ketika pemain Jaka Tarub dengan Nawangwulan melakukan perannya dengan baik. cukup menarik pula ketika di tengah-tengah memainkan teaer, terdapat guyonan-guyonan yang sangat jauh topiknya dengan judul “Jaka Tarub”. Namun di situ sangat bagus karena dapat menghibur penonton dengan comedi yang di selipkan di tengah-tengah teater tersebut.
            Saya menonton teater “Jaka Tarub” merasa terbawa suasana, saya merasa hidup di dalam teater tersebut, dan saya merasa ada di dalam teater tersebut, merasa hidup dalam teater Jaka Tarub.
Jaka Tarub adalah seorang pemuda dari desa yang mempunyai rupa yang rupawan. Jaka Tarub bermimpi menikah dengan seorang bidadari yang sangat cantik jelita. Ketika ia terbangun dari tidurnya ia sadar bahwa itu hanyalah sebuah bunga tidur (mimpi). Mengapa Jaka Tarub merasa yakin bahwa dirinya bisa menikah dengan seorang bidadari dari khayangan yang cantik jelita tersebut karena di setiap bulan purnama Jaka Tarub selalu bermimpi sama sperti halnya yang dimimpikan semalam. Kemudian ia teringat ibunya yang sudah meninggal, karena semenjak ibunya masih hidup, ibunya memiliki satu permintaan yang sampai saat ini, sampai ibunya sudah meninggal belum terlaksana.
Jaka Tarub justru lebih banyak melamun dan Jaka Tarub merasa sangat lelah dan ingin beristirahat.memang, itulah pekerjaan Jaka Tarub setiap harinya yang memburu hewan, jika Jaka Tarub mendapatkan hewan buruan tidak hanya utnuk dirinya sendiri tapi pasti buruannya di bagikan kepada tentangga-tetangganya.
Jaka Tarub memperhatikan satu persatu gadis yang ada di danau tersebut. Semuanya berparas cantik jelita layaknya seperti bidadari dari khayangan. Dari percakapan gadis-gadis tersebut Jaka Tarub sekilas mendengar bahwa mereka adalah bidadari dari khayangan. Kemudian Jaka Tarub berfikir jika yang di alami sekarang adalah jawaban dari mimpi yang selama bulan pernama Jaka. Tapi it bukanlah sebuah hayalan semata. Yang dilihat oleh Jaka Tarub itu memang benar-benar nyata.
Jaka Tarub melihat tumpukan selendang bidadari di atas sebuah batu yang bersar di pinggir danau tersebut. Setiap selendang itu memiliki warna yang  berbeda-beda. Jaka Tarub berfikir jika Jaka arub mengambil salah satu selendang milik bidadari itu, tentu yang punya selendang itu tidak Tarub selalu bermimpi menikah dengan seorang bidadari yang cantik jelita dari khayangan. dapat kembali ke khayangan. Jaka Tarub senyum-senyum sendiri, karena membayangkan jika salah satu dari bidadari itu mau di jadikan istri oleh Jaka Tarub. Perlauan Jaka Tarub mungkin bisa dikatakan jahat namun, agar Jaka Tarub bisa menikah dengan salah satu dari bidadari yang cantik jelita dari khayangan tersebut, apapun akan Jaka Tarublakukan, walaupun itu bisa membuat salah satu dari bidadari itu tidak bisa kembali pulang ke khayangan dan tetap tinggal di bumi bersama Jaka Tarub
Jaka arub mengambil salah satu selendang milik bidaddari tersebut. Tiba-tiba salah seorang dari bidadari mengatakan bahwa hari sudah mulai sore, maka mereka harus kembali pulang ke khayangan sebelum matahari terbenam. Para bidadari itupun menyetujui pendapat saudaranya, kemudian mereka keluar dari danau dan mereka mengenakan selendang masing-masing. Ada salah seorang bidadari yang kebingungan mencari selendangnya, salah seorang bidadari yang kehilangan selendang itu ingin sekali rasanya menangis, karena takut tidak bisa kembali pulang ke khayangan. bidadari itu bernama Nawangwulan.
Akhirnya Nawangwulan berkata kepada adik-adiknya bahwa adik-adiknya harus kembali pulang ke khayangan sebelum matahari terbenam. namun adik-adik Nawangwulan tidak mau meninggalkan Nawangwulan sendirian di bumi. Tetapi Nawangwulan tetap meyuruh adik-adiknya utnuk segera kembali pulang ke khayangan. Untuk meyakinkan adik-adiknya Nawangwulan berjanji bhawa Nawangwulan tidak apa-apa apabila ditinggal sendirian di bumu, jika  selendang Nawangwulan sudah ketemu Nawangwulan berjanji untuk segera kembali pulang ke khayangan.  tngMerekapun memelik Nawangwulan, seakan mereka tidak rela meninggalkan Nawangwulan seorang diri di bumi.
Ke 6 bidadari itu pun terbang kembali pulang ke khayangan meninggalkan Nawangwulan,  tidak bisa berbuat apa-apa. Nawangwulan hanya bisa mengangguk dan melambaikan tangan kepada ke 6 adiknya yang terbang perlahan meninggalkan danau dan Nawangwulan. Nawangwulan sangat sedih sekali dan  Nawangwulan berfikir kalau itu sudah nasib Nawangwulan untuk menjadi penghuni bumi. sambil Nawangwulan mencucurkan air mata, karena tidak bisa menemukan selendang itu dan tidak bisa kembali pulang ke khayangan bersama adik-adiknya.
Nawangwulanpun ingat bahwa sebelumnya dirinya pernah berjanji kepada dirinya sendiri apa bila ada yang memberikan ia pakaian maka ia jadikan saudara apa bila ia perempuan, namun apa bila ia seorang laki-laki maka ia akan dijadikan suami. Dan Nawangwulanakan menepati janjinya dengan mau menjadikan Jaka Tarub sebagai suaminya. Padahal seorang bidadari tidak boleh jatuh cinta dengan manusia apa lagi menikah dengan manusia. Namun bagaimana lagi Nawangwulan sebelmnya pernah berjanji kapada dirinya sendiri bahwa Nawangwulan akan menjadikan seorang laki-laki yang memberikan pakaian kepada Nawangwulan. Akhirnya Nawangwulan tanpa ragu bersedia menerima Jaka Tarub sebagai suaminya. Dan merekapun pulang ke rumah Jaka Tarub. namun sebelumnya Nawangwulan bagaimana bingung jika tetangga Jaka trub menanyakan asal usul Nawangwulan, tidak mungkin Jaka Tarub mengatakan hal yang sebenarnya bahwa Nawangwulan adalah seorang bidadari dari khayangan. Akhirnya Jaka Tarub mempunyai ide, jika tetangga Jaka Tarub menanyakan tentang asal usul Nawangwulan, Jaka Tarub akan menjawab kepada tetangganya, bahwa Nawangwulan itu berasal dari desa yang sangat jauuuh sekali. Akhirnya mereka pulang untuk merencanakan pernikahan Jaka Tarub dengan Nawangwulan.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, Jaka Tarub dan Nawangwulan yang sudah menikah tak terasa sekarang Nawangwulan sedang hamil tua. anak dari Jaka Tarub. Ketika mereka duduk di depan rumah,  dan Nawangwulan yang sedang ngobrol tentang kehamilannya dan merencanakan siapa nama anaknya kelak. beberapa saat kemudian perut Nawangwulan terasa sangat sakit seperti akan melahirkan. Jaka Tarub langsung memanggil dukun bayi yang dapat membantu proses kelahiran istrinya. Dengan rasa gugup, panik, takut, dan bahagia perasaan Jaka Tarub sudah campur aduk menjadi satu.Setelah Jaka Tarub mendengar suara bayi menangis, Jaka Tarub langsung mengucapkan puji syukur dan langsung masuk ke rumah untuk melihat keadaan istrinya dan anaknya. Jaka Tarub dan Nawangwulan telah dikaruniai seorang putri yang diberi nama Nawangsih.
Panen yang di peroleh secara teratur membuat lumbung lumbung padi mereka hampir tak muat lagi utnuk menampungnya.
Pada suatu pagi, Nawangwulan hendak mencuci ke sungai dan menitipkan Nawangsih pada Jaka Tarub. Nawangwulan juga mengingatkan pada suaminya (Jaka Tarub) itu utnuk tidak membuka tutup kukusan nasi yang sedang dimasaknya. Ketika Jaka Tarub sedang asyik bermain dengan Nawangsih yang saat itu umurnya masih 1 tahun, Jaka Tarub teringat dengan nasi yang sedang dimasak istrinya karena terasa sudah lama, Jaka Tarub hendak melihat apakah nasi itu sudah matang atau belum. Tanpa sadar jaka tarub membuka kukusan nasi itu dan lupa akan pesan istrinya. Betpa terkejutnya Jaka Tarub setelah melihatisi kukusan itu. Nawangwulan hanya masak setangkai padi. Jaka Tarubpun langsung teringat akan persediaan padi mereka yang semakin lama semakin banyak. Terjawab sudah pertanyaannya selama ini.
Nawangwulan yang rupanya telah sampai di rumah, setelah Nawangwulan masuk ke dapur, Nawagwulan menatap marah kepada Jaka Tarub, karena Jaka Tarub sudah melanggar pesan Nawangwulan. Kemudian Nawangwulan bertanya kepada Jaka Tarub, kenapa Jaka Tarub mengingkari pesan Nawangwulan. Kemudian Jaka Tarub tidak bisa menjawab dan hanya bisa terdiam. Kemudian Nawangwulan berkata lagi bahwa hilang sudah kesaktian Nawangwulan utnuk merubah setangkai padi menjadi sebakul nasi. Jaka Tarub sangat menyesal karena sudah mengingakri pesan istrinya, tapi apa yang mau dikatakan lagi
. Ketika sedang menarik batang padi yang tersisa tinggal sedikit itu, Nawangwulan merasa tangannya memegang sesuatu yang lembut. Karena penasaran, Nawangwulan terus menarik benda itu. Wajah Nawangwulan seketika pucat pasi menatap benda yang baru saja berhasil diraihnya. Baju bidadari dan selendangnya yang berwarna merah.. !!
            Jaka Tarub menahan kesedihannya dengan sangat. Ia ingin terlihat tegar. Setelah Jaka Tarub menyatakan kesanggupannya untuk tidak bertemu lagi dengan Nawangwulan, sang bidadaripun terbang meninggalkan dirinya dan Nawangsih. Jaka Tarub hanya sanggup menatap kepergian Nawangwulan sambil mendekap Nawangsih. Sungguh kesalahannya tidak termaafkan. Tiada hal lain yang dapat dilakukannya saat ini selain merawat Nawangsih dengan baik seperti pesan Nawangwulan.

Pada pementasan yang kedua yang berjudul Monolog Balada Sumarah. Pada pementasan kali ini sangat begitu menarik karena yang berperan hanya satu orang, yaitu sosok wanita seperti judulnya. Sumarah ini adalah seorang wanita asal Indonesia yang merupakan anak dari ayah yang merupakan golongan PKI yang saat itu sedang buming. Sumarah ini merasa tidak terima diperlakukannya seperti itu,misalnya dikucilkan dan dijauhi oleh teman-temannya semasa ia sekolah sampai lulus SMA. Untuk mencari pekerjaan yang layak pun sumarah merasa kesulitan karena ia adalah anak dari seorang golongan PKI. Padahal saat itu ayahnya tidak mengikuti PKI. Tetapi kenapa ayahnya bisa termasuk dalam golongan PKI tersebut. Setelah itu Sumarah nekat untuk mendaftar bekerja diluar negeri atau istilahnya TKW. Ia mendaftar ke kantor yang mengurus TKW. Supaya administrasi berjalan dengan lancar maka yang dilakukan ialah dengan jalan belakang dengan adanya uang. Karena jaman sekarang jika urusan akan lancar maka uang pun juga harus lancar. Acara ini Sumarah lakukan supaya administrasi bisa diurus tanpa adanya kendala.
            Maka pergilah ia ke Arab Saudi, pikirnya ia disana akan mendapatkan penghasilan yang banyak tetapi ia disana mendapatkan siksaan terhadap majikannya. Ditambah lagi jika berbuat salah sedikit ia langsung dianiaya. Dan pada suatu hari Sumarah mendapatkan pelecehan seksual terhadap majikan pria nya. Ia diperkosa oleh majikannya sendiri. Sumarah pun merasa kesal terhadap majikannya tersebut. Suatu ketika sumarah berfikiran untuk membunuh majikannya yang telah memperkosanya. Jelas yang ia perbuat itu merupakan kejahatan yang dapat merugikannya dan juga pasti akan mendapatkan hukuman mati yang berlaku di Arab Saudi. Sumarah sudah siap akan hukuman yang akan diterimanya.
            Begitulah nasib TKW kita yang mendapatkan siksaan dari majikannya. Seharusnya pemerintah lebih memperhatikan nasib para TKI dan TKW yang berkerja diluar negeri. Karena meraka juga memiliki HAM yang sepatutnya untuk dilindungi juga dari hukuman yang menimpanya. Dan juga dari perusahaan yang harus lebih mengketat calon TKI dan TKW yang akan diperkerjakan diluar negeri supaya komunikasi antar majikan dan juga pekerjanya bisa lebih terjaga.
            Pementasan tersebut ditutup dengan pemeran yang mengakhiri pementasannya. Sungguh apik sekali yang sudah dibawakan dari pementasan keduanya. Yang pertama dari pementasan Jaka Tarub dan juga pementasan Monolog Balada Sumarah.


MEMPERINGATI HARI SUMPAH PEMUDA
Oleh : Winda Ylia Astuti 15410161
Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober itu, diperingati pula oleh mahasiswa Universitas PGRI Semarang yang diadakan siang tadi Jum’at 28 Oktober 2016. Yang diadakan di sebuah parkiran Gedung Utama Universitas PGRI Semarang. Banyak mahasiswa yang menuliskan kata-kata semangat perjuangan diatas kertas berwarna, keudian ditempelkan di sebuah kain yang sudah disediakan atau sudah disiapkan dari pihak tersebut. Banyak kata-kata semangat perjuangan seperti “yang muda yang berkarya” kemudian “semangat anak muda Indonesia” dan lain sebagainya. Beberapa mahasiswa dari Universitas PGRI Semarang dari beberapa program studi yang membacakan puisi tetang sumpah pemuda. Ada mahasiswa yang berorasi di depan Gedung Utama Universitas PGRI Semarang dengan judul “Prajurit Jaga Malam” karya WS Rendra
PRAJURIT JAGA MALAM
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !
1948
Siasat,
Th III, No. 96
1949

Dengan terik matahari yang lumayan menyengat, penonton yang mulai mungkin lelah dan kepanansan, banyak penonton yang berteduh dan duduk, sambil menyaksikan orasi yang di tampilkan oleh mahasiswa Universitas PGRI Semarang. Tapi dengan tempat yang menurut saya tidak cukup strategis karena di sebuah prakiran. Membuat banyak pengunjung yang mengabaikan atau tidak memperhatiikan atau tidak mendengarkan semangat mahasiswa ketika berorasi.
Doa Seorang Serdadu Sebelum Perang
Oleh : W.S. Rendra
Tuhanku,
WajahMu membayang di kota terbakar
dan firmanMu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal
Anak menangis kehilangan bapa
Tanah sepi kehilangan lelakinya
Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia
Apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara
Waktu itu, Tuhanku,
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku
Malam dan wajahku
adalah satu warna
Dosa dan nafasku
adalah satu udara.
Tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari
-biarpun bersama penyesalan-
Apa yang bisa diucapkan
oleh bibirku yang terjajah ?
Sementara kulihat kedua lengaMu yang capai
mendekap bumi yang mengkhianatiMu
Tuhanku
Erat-erat kugenggam senapanku
Perkenankan aku membunuh
Perkenankan aku menusukkan sangkurku
Mimbar Indonesia
Th. XIV, No. 25
18 Juni 1960
            Mungkin karena cuaca yang panas di sebuah parkiran Gedung Utama Universitas PGRI Semarang, membuat para pengunjung yang menyaksika orasi berteduh, dan membuat miris lagi sedikit sekali yang mengunjungi orasi, dan itupun hanya beberapa saja yang memperhatikan jalannya orasi tersebut. Mungkin cukup sulit untuk menarik perhatian para pengunjung untuk dapat memperhatikan jalannya orasi tersebut. Namun ada beberapa mahasiswa yang benar-benar memperhatikan jalannya orasi terebut, hati mereka bergemuruh dengan datangnya hari Sumpah Pemuda, mereka merasakan semangat perjuangan ketika Bangsa Indonesia dijajah oleh bangsa-bangsa lain terutana Negara Belanda yang cukup lama menjajah Bangsa Indonesia. Yang benar-benar memperhatikan akan merasakannya dan menambah semangat mahasiswa tersebut untuk menjaga Bangsa Indonesia agar tidak dijajah kembali oleh Bangsa lain. Dengan cara belajar dan menjadi orang yang sukses.  Dengan begitu kita juga bisa disebut melanjutkan semangat perjuangan pemuda zaman dahulu. 
            Dengan adanya memperingati hari Sumpah Pemuda yang berbunyi :
1.      Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah joeang satoe, tanah Indonesia.
2.      Kami  poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa joeang satoe, bangsa Indonesia.
3.      Kami  poetra dan poetri Indonesia menjoenjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
Dengan itu, kita dapat mengingat semangat perjuangan pemuda Indonesia dulu, dan dapat kita tanamkan semangat perjuangan tersebut dalah hati kita atau dalam diri kita. Agar tumbuh semangat baru dalam diri kita untuk tetap berjuang atau berkarya dalam bidang kita masing-masing atau kemampuan kita masing-masing untuk menghasilkan karya yang memuaskan. Atau mereka yang berprofesi sebagai gurudapat menciptakan  pemuda-pemuda penerus kita kelak dapat memiliki jiwa perjuangan atau jiwa semangat yang tumbuh dalam hati mereka atau tubuh dalam diri mereka.
























ACARA BULAN BAHASA
            Acara bulan bahasa yang dilaksanakan tepatnya pada hari Kamis, 27 Oktober 2016 bertempat  di Balairung Universitas PGRI Semarang. Acara bulan bahasa ini yang di laksanakan atau di peringati setiap tahunnya yang di meriahkan oleh mahasiswa Universitas PGRI Semarang. Dnegan backgroun yang sangat apik dan lampu-lampu yang dapat menari-nati dengan lincahnya. Dengan dihadiri ratusan mahasiswa dari Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni dan dengan memakai pakaian adat dari berbagai daerah di indonesia ada yang memakai adat papua, jawa dan lain-lain.
 Acara bulan bahasa kemarin sangatlah meriah, berbeda dengan tahun-tahun yang lalu. Sungguh ini sangatlah meriah. Dalam acara tersebut mengadakan lomba yang diajukan untuk para mahsiswa Universitas PGRI Semarang khususnya Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni. Dengan berbagai tampilan-tampilan dari mahasiswa Universitas PGRI Semarang. Ada yang menampilakan tari, ada juga dance. Seolah-olah meraka menunjukan bakat mereka yang terendam.

            Acara tersebut mmengingatkan kita pada satu kesatuan. Meskipun Bangsa Indonesia memiliki berbeda-beda bahasa, agama, suku, ras, dan sebagainya namun tidak membeda-bedakan. Semuanya tetap sama dan memiliki bahasa kesatuan yaitu bahasa Indonesia. 
ESAI UPGRIS BERSASTRA
Oleh : Winda Yulia Asuti 15410161

            UPGRIS BERSASTRA yang dilaksanakan pada hari Rabu, 19 Oktober 2016. Tepatnya di Balairung Universitas Pgri Semarang. Acara UPGRIS Bersastra ini unutk memeringati Bulan Bahasa yang diadakan setiap tahunnya di Universitas PGRI Semarang. Acara ini di khususkan untuk FPBS (Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni).
            Dengan suasana panggung yang megah dan mewah, background yang sangat unik, pencahayaan yang begitu kerennya menari-nari dengan sangat lincah dan tempat duduk yang sudah ditata sedemikian rupa, dengan posisi melengkung yang begitu indah. Ruangan yang di penuhi dengan penonton yang sangat antusias untuk datang di acara UPGRIS Bersastra tersebut.
            Tarian yang ditunjukan oleh beberapa mahasiswa dari Universitas PGRI Semarang  itu juga sangat bagus sekali dengan gerakan-gerakan yang sangat lincah dan lentur, membuat penonton lebih tertarik untuk melihat lebih lanjut tarian tersebut. Akhir tarian diiringi tepuk tangan yang sangat meriah sekali dari penonton, karena mungkin mereka merasa puas dengan penampilan.
            Triyanto Triwikromo seorang direktur, seorang dosen. 30 (tiga puluh) tahun  perjalanan sebagai pengarang. 3 buku, 3 pembaca, 3 kritikus, dan 1 pegarang, yang dibawakan oleh Dr. Harjito dosen dari Universitas PGRI Semarang. Rektor Universitas PGRI Semarang  Dr. Muhdi, S.H., H.Hum yang membacakan puisi karya Triyanto Triwikromo yang berjudul “takziah” dengan sangat bagus, karena membuat suasana manjadi hening, seakan dalam ruangan tersebuat atau penonton terbawa suasana, seakan mereka berada dalam kisah puisi yang di bacakan oleh Rektor Universitas PGRI Semarang tersebut.
seorang rektor Universitas PGI Semarang yang mengambil jurusan hukum tapi beliau mampu membacakan puisi karya Triyanto Triwkiromo dengan sangat bagus. Sampai para penonton yang tadinya ramai mendadak hening memperhatikan dan mendengarkan rektor Universitas PGRI Semarang yang sedang membacakan puisi. Ketika rektor memainkan gitar dan menyanyikan lagu yang di ciptakan sendiri semua penonton tepuk tangan dengan meriah, karena mungkin penonton tidak menyangka bahwa rektor Universitas PGRI Semarang, seorang anak fakultas hukum mampu memainkan gitar dan menciptakan lagu sendiri layaknya seorang seni.
            Kemudian rektor juga membacakan puisi yang berjudul “mereka memalsukan kisahku” dengan suara yang merdu dan suara yang lihai dalam membacakan puisi karangan Triyanto Triwikromo tersebut. Penonton sangat memperhatikan rektor yang sedang membacakan puisi tersebut. Penonton seperti terbawa suasana, seperti hidup di dalam puisi tersebut.
            Selanjutnya Dra. Sri Suciati, M.Hum seorang wakil rektor 1 Universitas PGRI Semarang yang membacakan puisi bersama dengan  Erda mahasiswi program studi Bahasa Inggris. Puisi yang dibacakan adalah puisi yang berjudul “selir musim panas”. Sebelum membacakan puisi bu Suci itu menyanyikan sebuah lagu bersana Erda, dengan suara yang sangat merdu dan indah sekali. Penonton sampai terkagum-kagum mendengar suara emas bu Suci dan Erda. Suara bu Suci yang dipadukan dengan Erda membuat suasana di ruangan tersebut menjadi kondusif, tentram dan membuat hati menjadi tenang setelah mendengar suara bu Suci dan Erda.
             Ketika bu Suci membacakan puisi tersebut yang diciptakan oleh Triyanto Triwikromo yang berjudul “selir di musin panas”. Saat itu penonton sangat antusias. Semua mata penonton tertuju ke bu Suci yang sedang membacakan puisi tersebut. Acara tersebut berjalan dengan sangat lancar tanpa ada suatu kendala apapun yang dapat mengahambat jalannya acara UPGRIS Bersastra.
            Penonton khususnya dari fakultas bahasa diharapkan dapat mencontoh jalannya karier Triyanto Triwikromo seorang pengarang puisi. Perjuangan yang begitu berat dan semangat yang begitu tinggi untuk menulis beberapa buku. Sampai akhirnya Trinyanto Triwikromo berhasil dan dengan hasil yang memuaskan.
            Anak bahasa buakan hanya bisa menjdi guru yang profesional tetapi bisa menjadi pengarang puisi atau cerpen yang terkenal dan cemerlang dengan banyak penggemar buku yang dikarang oleh anah bahasa. Kita sebagai anak bahasa dapat mulai menulis dari sekarang, dan tulisan-tulisan tersebut di kirim ke media massa atau redaktur koran agar tulisannya dapat di muat di koran. Dimulai dari situlah kita dapat membiasakan diri untuk menulis, mengarang, atau menciptakan sebuat puisi, opini, cerpen dll.
            Pak pras seorang yang menganalisis cerpen yang berjudul “bersepeda ke neraka” karangan Triyanto Triwikromo. Beliau sangat tertarik dengan cerpen tersebut. Dilihat dari judulnya “bersepeda ke neraka” sudah sangat unik, bagaimana bisa bersepeda ke neraka. Disitulah pak pras meganalisis cepen “bersepeda keneraka” karangan  Triyanto Triwikromo. Kemudian kritikus yang bernama Dr. Nur Hidayat, M.Hum. dosen Universitas PGRI Semarang yang menjadi kritikus sastra. Beliau juga yang mengkritik buku yang dikarang oleh Triyanto Triwikromo.
            Biscuittime yang di undang untuk menyanyikan beberapa lagu. Dengan 2 laki-laki yang bermain gitar (gitaris) dan 1 wanita cantik dan anggun yang bernyanyi (vokalis), mereka juga adalah mahasiswa dari Universitas PGRI Semarang yang mengikuti kegiatan “kias” di Universitas PRGI Semarang. Menyanyikan lagu yang berjudul “moksa” puisi karya Triyanto Triwikromo, yang terinpirasi dengan puisi tersebut dan lagu yang berjudul “aku hanya angin aku hanya langit” puisi karangan Triyanto Triwikromo pula, puisi itu di buat lagu, dengan suara yang sangat merdu dan indah.

            Dari awal sampai akhir kegiatan sangat lancar, para penonton khususnya fakultas bahasa merasa sangat puas apa yang ditampilkan dalam acara “UPGRIS Bersastra” tersebut. Dalam mengadakan acara tersebut mempunyai harapan agar para penonton dapat menulis atau mengungkapkan ide-ide yang ada difikiran mereka dengan menulis, dan dengan tulisan-tulisan tersebut mereka dapat menjadi seorang pengarang seperti Triyanto Triwikromo, bahkan berharap lebih dari TriyantoTriwikromo, agar menciptakan atau melahirkan generasi baru yang cemerlang.

Jumat, 16 Desember 2016

Menurut saya lebih baik Ujian Nasional (UN) tetap diadakan saja, tak perlu dihapus. Karena jika Ujian Nasional (UN) tetap dihadirkan, maka siswa dapat belajar dengan tekun, dan dapat mengigat kembali mata pelajaran yang sebelumnya atau yang sudah lama tidak dibahas kembali dalam mata pelajaran tersebut. Dengan ditiadakannya Ujian Nasional (UN) maka siswa menjadi malas untuk belajar untuk mengingat kemabali mata pelajaran yang sudah lampau. Tetapi guru harus mempertimbangkan kembali mengenai penentuan kelulusan. Ujian Nasional (UN) yang diujikan hanya mata pelajaran tertentu seperti matematika, Bahasa Indonesia, dan IPA. Uian Nasional (UN) jangan hanya dijadikan sebagai acuan untuk menenentukan kelulusan siswa. Pertimbangakan juga nilai mata pelajaran yang lainnya. Guru juga harus mempertimbangakan bagaimana karakter siswa kesehariannya dalam lingkungan sekolah. Jika hanya Ujian Nasional (UN) yang hanya diujikan beberapa mata pelajaran saja yang menjadi acuan penentuan kelulusan siswa. Maka siswa hanya akan fokus pada mata pelajaran yang akan diujikan . sedangkan mata pelajaran yang lain akan terabaikan begitu saja.
Memang Ujian Nasional (UN) menjadikan para siswa menjadi merasa tegang, ketakutan, dan berbagai macam perasaan lainnya. Namun dengan begitu siswa akan belajar dengan semangat dan sungguh-sungguh. Sebaiknya Ujian Nasional (UN) harus tetap diadakan karena itu digunakan para murid sebagai ajang pertarungan yang positif. Namun, guru juga harus mempertimbangkan berulang kali bukan hanya nilai ujian Nasional (UN) yang dijadikan sebagai acuan penetuan  kelulusan siswa. Namun mata pelajaran yang lain juga harus dipertimbangkan, dan karakter keseharian  siswa di lingkungan sekolah.



Winda Yulia Astuti (3D/PBSI)