Sabtu, 24 Desember 2016

MEMPERINGATI HARI SUMPAH PEMUDA
Oleh : Winda Ylia Astuti 15410161
Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober itu, diperingati pula oleh mahasiswa Universitas PGRI Semarang yang diadakan siang tadi Jum’at 28 Oktober 2016. Yang diadakan di sebuah parkiran Gedung Utama Universitas PGRI Semarang. Banyak mahasiswa yang menuliskan kata-kata semangat perjuangan diatas kertas berwarna, keudian ditempelkan di sebuah kain yang sudah disediakan atau sudah disiapkan dari pihak tersebut. Banyak kata-kata semangat perjuangan seperti “yang muda yang berkarya” kemudian “semangat anak muda Indonesia” dan lain sebagainya. Beberapa mahasiswa dari Universitas PGRI Semarang dari beberapa program studi yang membacakan puisi tetang sumpah pemuda. Ada mahasiswa yang berorasi di depan Gedung Utama Universitas PGRI Semarang dengan judul “Prajurit Jaga Malam” karya WS Rendra
PRAJURIT JAGA MALAM
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !
1948
Siasat,
Th III, No. 96
1949

Dengan terik matahari yang lumayan menyengat, penonton yang mulai mungkin lelah dan kepanansan, banyak penonton yang berteduh dan duduk, sambil menyaksikan orasi yang di tampilkan oleh mahasiswa Universitas PGRI Semarang. Tapi dengan tempat yang menurut saya tidak cukup strategis karena di sebuah prakiran. Membuat banyak pengunjung yang mengabaikan atau tidak memperhatiikan atau tidak mendengarkan semangat mahasiswa ketika berorasi.
Doa Seorang Serdadu Sebelum Perang
Oleh : W.S. Rendra
Tuhanku,
WajahMu membayang di kota terbakar
dan firmanMu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal
Anak menangis kehilangan bapa
Tanah sepi kehilangan lelakinya
Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia
Apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara
Waktu itu, Tuhanku,
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku
Malam dan wajahku
adalah satu warna
Dosa dan nafasku
adalah satu udara.
Tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari
-biarpun bersama penyesalan-
Apa yang bisa diucapkan
oleh bibirku yang terjajah ?
Sementara kulihat kedua lengaMu yang capai
mendekap bumi yang mengkhianatiMu
Tuhanku
Erat-erat kugenggam senapanku
Perkenankan aku membunuh
Perkenankan aku menusukkan sangkurku
Mimbar Indonesia
Th. XIV, No. 25
18 Juni 1960
            Mungkin karena cuaca yang panas di sebuah parkiran Gedung Utama Universitas PGRI Semarang, membuat para pengunjung yang menyaksika orasi berteduh, dan membuat miris lagi sedikit sekali yang mengunjungi orasi, dan itupun hanya beberapa saja yang memperhatikan jalannya orasi tersebut. Mungkin cukup sulit untuk menarik perhatian para pengunjung untuk dapat memperhatikan jalannya orasi tersebut. Namun ada beberapa mahasiswa yang benar-benar memperhatikan jalannya orasi terebut, hati mereka bergemuruh dengan datangnya hari Sumpah Pemuda, mereka merasakan semangat perjuangan ketika Bangsa Indonesia dijajah oleh bangsa-bangsa lain terutana Negara Belanda yang cukup lama menjajah Bangsa Indonesia. Yang benar-benar memperhatikan akan merasakannya dan menambah semangat mahasiswa tersebut untuk menjaga Bangsa Indonesia agar tidak dijajah kembali oleh Bangsa lain. Dengan cara belajar dan menjadi orang yang sukses.  Dengan begitu kita juga bisa disebut melanjutkan semangat perjuangan pemuda zaman dahulu. 
            Dengan adanya memperingati hari Sumpah Pemuda yang berbunyi :
1.      Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah joeang satoe, tanah Indonesia.
2.      Kami  poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa joeang satoe, bangsa Indonesia.
3.      Kami  poetra dan poetri Indonesia menjoenjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
Dengan itu, kita dapat mengingat semangat perjuangan pemuda Indonesia dulu, dan dapat kita tanamkan semangat perjuangan tersebut dalah hati kita atau dalam diri kita. Agar tumbuh semangat baru dalam diri kita untuk tetap berjuang atau berkarya dalam bidang kita masing-masing atau kemampuan kita masing-masing untuk menghasilkan karya yang memuaskan. Atau mereka yang berprofesi sebagai gurudapat menciptakan  pemuda-pemuda penerus kita kelak dapat memiliki jiwa perjuangan atau jiwa semangat yang tumbuh dalam hati mereka atau tubuh dalam diri mereka.
























ACARA BULAN BAHASA
            Acara bulan bahasa yang dilaksanakan tepatnya pada hari Kamis, 27 Oktober 2016 bertempat  di Balairung Universitas PGRI Semarang. Acara bulan bahasa ini yang di laksanakan atau di peringati setiap tahunnya yang di meriahkan oleh mahasiswa Universitas PGRI Semarang. Dnegan backgroun yang sangat apik dan lampu-lampu yang dapat menari-nati dengan lincahnya. Dengan dihadiri ratusan mahasiswa dari Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni dan dengan memakai pakaian adat dari berbagai daerah di indonesia ada yang memakai adat papua, jawa dan lain-lain.
 Acara bulan bahasa kemarin sangatlah meriah, berbeda dengan tahun-tahun yang lalu. Sungguh ini sangatlah meriah. Dalam acara tersebut mengadakan lomba yang diajukan untuk para mahsiswa Universitas PGRI Semarang khususnya Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni. Dengan berbagai tampilan-tampilan dari mahasiswa Universitas PGRI Semarang. Ada yang menampilakan tari, ada juga dance. Seolah-olah meraka menunjukan bakat mereka yang terendam.

            Acara tersebut mmengingatkan kita pada satu kesatuan. Meskipun Bangsa Indonesia memiliki berbeda-beda bahasa, agama, suku, ras, dan sebagainya namun tidak membeda-bedakan. Semuanya tetap sama dan memiliki bahasa kesatuan yaitu bahasa Indonesia. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar