Jaka Tarub dan Balada Sumarah
Cerita
rakyat Jaka Tarub sudah sangat melekat di benak dan pikiran rakyat Indonesia.
Sudah tak asing lagi bagi rakyat Indonesia tentang cerita tersebut. Banyak
khalayak yang sangat gemar dan suka cerita tersebut. Cerita tersebut sudah
sering dipentaskan lewat televisi bahkan juga lewat teater yang diperankan oleh
mahasiswa di sebuah universitas.
Kemarin
malam, Selasa (4/10) Gedung Pusat Lantai 7 Universitas PGRI Semarang diramaikan
pementasan Teater Jaka Tarub dan Monolog
Balada Sumarah yang diperankan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Teater Gema. Sekitar
dua ratus penonton berdatangan dengan langkah bersemangat turun dari lift. Sampai diruangan semua mata tertuju pada
panggung pemeranan yang ditata apik
oleh crew yang bertugas.
Lampu
diruangan mulai gelap pertanda pementasan teater akan dimulai. Pementasan
teater ini diawali dengan teriakan mimpi seorang lelaki tua, pasti kalian sudah
tau siapa nama lelaki itu. Ya benar sekali nama lelaki itu Jaka Tarub.
Teriakannya membuat gadis cantik jelita kaget dan membangunkannya dari mimpi
itu. Gadis cantik itu ialah anaknya yang bernama Nawang Asih. Jaka Tarub sangat
merindukan istri yang dicintainya.
Pementasan
pertama sangat menggugah hati penonton untuk melihat cerita ini lebih lanjut.
Teriakan menggema seketika 7 Bidadari cantik keluar dari khayangan dan mandi di
air telaga. Alur mundur yang digunakan pada pementasan ini sangat menarik. Ketika
Jaka Tarub mengambil selendang dari Bidadari tertua yang bernama Nawang Wulan. Nawang
Wulan berkata “ andai ada orang yang bisa menemukan selendang dan pakaianku,
jika itu perempuan akan aku jadikan saudara dan jika itu laki-laki akan ku
jadikan suami. Mendengar hal itu alangakah senangnya Jaka Tarub. Dia berlagak
seperti pahlawan kesiangan yang membawakan pakaian untuk Nawang Wulan. Hingga
akhirnya mereka menikah dan mempunyai seorang anak perempuan yang cantik jelita
bernama Nawang Asih.
Kemeriahan
masih berlangsung harmonis. Riuh canda tawa penonton mengiringi pementasan
teater Jaka Tarub. Kemeriahan semakin
pecah ketika disisipi penampilan dari tiga pemain lawakan berpostur tubuh
gemuk. Penonton menyimak setiap adegan yang diperankan dengan seksama seakan
tidak mau ketinggalan sedetikpun adegan yang diperankan oleh ketiga pemain
tersebut. Banyak celotehan lucu yang membuat perut penonton kaku dibuatnya.
Suasana
seketika kembali hening setelah lampu pementasan dimatikan. Ruangan menjadi
gelap gulita tanpa ada penerangan. Pencahayaan lampu yang bagus dan keren.
Lampu kembali terang seperti semula. Pemain teater mulai memposisikan diri.
Terlihatlah Jaka Tarub dan Nawang Wulan sedang bercengkrama diteras rumahnya.
Nawang Wulan berpamitan kepada Jaka Tarub pergi ke sungai untuk mencuci
pakaian. Nawang Wulan berpesan kepada Jaka Tarub bahwa jangan pernah mencoba
membuka penanak nasi yang dimasak Nawang Wulan. Namun, apa yang terjadi pesan
itu dilanggar Jaka Tarub. Ketika Nawang Wulan kembali masuk ke dalam rumah. Dia
mengambil padi dan menemukan selendangnya di lumbung padi. Ternyata yang
menyembunyikan selendang itu tak bukan dan tak lain ialah suaminya sendiri
yaitu Jaka Tarub. Nawang Wulan marah besar dan pergi kembali ke khayangan
meninggalkan Jaka Tarub bersama anaknya di bumi.
Penonton
seperti diajak sutradara ke masa lampau dengan alur cerita yang mudur. Kini
hanyalah penyesalan yang ditanggung dan dirasakan oleh Jaka Tarub karena sudah
mencuri selendang dan melanggar janji kepada Nawang Wulan. Keriduan Jaka Tarub
dan Nawang Asih terhadap Nawang Wulan, kini mereka hanya bisa melihat dan memandangi
bulan. Karena mereka percaya di tempat itulah Nawang Wulan berada.
Riuh
tepuk tangan penonton semakin menggema. Pertanda cerita Jaka Tarub sudah
berakhir. Memang kebohongan yang paling menyakitkan itu kebohongan yang
terlontar dari orang yang sangat kita cintai. Melalui, teater ini kita dapat
menyuarakan pentingnya warisan cerita rakyat yang ada di negeri ini. Jangan
sampai punah dan hilang. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak akan pernah
melupakan sejarah bangsanya.
Monolog Balada Sumarah
Setelah
hampir dua jam lamanya, penonton dimanjakan dengan pentas teater Jaka Tarub
yang menakjubkan. Sekarang penonton seperti diberi hidangan hangat di malam
hari yang dingin. Monolog Balada Sumarah yang diperankan oleh wanita berpostur tubuh
semampai memakai gamis warna putih dan berkerudung sangat menarik perhatian
penonton. Semua mata dimanjakan dengan penampilannya yang menawan. Mulai dari
gaya bicara, gerak-geriknya yang lincah, dan dia juga pandai memainkan lirikan
matanya. Semangat penonton masih menggebu-gebu melihat pementasan Monolog
Balada Sumarah.
Balada
Sumarah menceritakan tentang perjalanan hidup seorang tenaga kerja wanita
bernama Sumarah yang ayahnya dituduh sebagai aktivis PKI. Dengan embel-embel
PKI dia tidak bisa melamar pekerjaan di negaranya sendiri. Ijazahnya pun yang
selama ini dia kumpulkan tak terpakai dan terbuang sia-sia. Hingga akhirnya dia
menjadi TKW di Arab Saudi. Dia membunuh majikannya sendiri sebagai rasa
pembelaan terhadap dirinya.
Sumarah
seorang perempuan, seorang TKW, seorang pembunuh, dan seorang pesakitan. Bentuk diskriminasi terhadap perempuan
hingga saat ini masih sering terjadi. Tidak bisa dipungkiri anggapan bahwa
seorang perempuan itu wanita yang lemah menjadi stigma dalam diri perempuan.
Meskipun sudah ada emansipasi wanita, hak pendidikan wanita dan laki-laki sama.
Namun, kenyataanya wanita masih dianggap rendah dari laki-laki. Pola pikir yang
seperti ini seharusnya diubah. Perempuan wajib berkarya sesuai dengan kemampuan
dan yang terpenting tidak melupakan kodratnya sebagai seorang wanita.
Lampu
panggung pementasan semakin terang mengakhiri pementasan Monolog Balada Sumarah.
Kembali diselingi tepuk tangan penonton yang semakin meriah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar