ESAI UPGRIS BERSASTRA
Oleh : Winda Yulia Asuti 15410161
UPGRIS BERSASTRA yang dilaksanakan
pada hari Rabu, 19 Oktober 2016. Tepatnya di Balairung Universitas Pgri
Semarang. Acara UPGRIS Bersastra ini unutk memeringati Bulan Bahasa yang
diadakan setiap tahunnya di Universitas PGRI Semarang. Acara ini di khususkan
untuk FPBS (Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni).
Dengan suasana panggung yang megah
dan mewah, background yang sangat unik, pencahayaan yang begitu kerennya
menari-nari dengan sangat lincah dan tempat duduk yang sudah ditata sedemikian
rupa, dengan posisi melengkung yang begitu indah. Ruangan yang di penuhi dengan
penonton yang sangat antusias untuk datang di acara UPGRIS Bersastra tersebut.
Tarian yang ditunjukan oleh beberapa
mahasiswa dari Universitas PGRI Semarang itu juga sangat bagus sekali dengan
gerakan-gerakan yang sangat lincah dan lentur, membuat penonton lebih tertarik
untuk melihat lebih lanjut tarian tersebut. Akhir tarian diiringi tepuk tangan
yang sangat meriah sekali dari penonton, karena mungkin mereka merasa puas
dengan penampilan.
Triyanto Triwikromo seorang
direktur, seorang dosen. 30 (tiga puluh) tahun
perjalanan sebagai pengarang. 3 buku, 3 pembaca, 3 kritikus, dan 1
pegarang, yang dibawakan oleh Dr. Harjito dosen dari Universitas PGRI Semarang.
Rektor Universitas PGRI Semarang Dr.
Muhdi, S.H., H.Hum yang membacakan puisi karya Triyanto Triwikromo yang
berjudul “takziah” dengan sangat bagus, karena membuat suasana manjadi hening,
seakan dalam ruangan tersebuat atau penonton terbawa suasana, seakan mereka
berada dalam kisah puisi yang di bacakan oleh Rektor Universitas PGRI Semarang
tersebut.
seorang
rektor Universitas PGI Semarang yang mengambil jurusan hukum tapi beliau mampu
membacakan puisi karya Triyanto Triwkiromo dengan sangat bagus. Sampai para
penonton yang tadinya ramai mendadak hening memperhatikan dan mendengarkan
rektor Universitas PGRI Semarang yang sedang membacakan puisi. Ketika rektor
memainkan gitar dan menyanyikan lagu yang di ciptakan sendiri semua penonton
tepuk tangan dengan meriah, karena mungkin penonton tidak menyangka bahwa
rektor Universitas PGRI Semarang, seorang anak fakultas hukum mampu memainkan
gitar dan menciptakan lagu sendiri layaknya seorang seni.
Kemudian rektor juga membacakan
puisi yang berjudul “mereka memalsukan kisahku” dengan suara yang merdu dan
suara yang lihai dalam membacakan puisi karangan Triyanto Triwikromo tersebut.
Penonton sangat memperhatikan rektor yang sedang membacakan puisi tersebut. Penonton
seperti terbawa suasana, seperti hidup di dalam puisi tersebut.
Selanjutnya Dra. Sri Suciati, M.Hum
seorang wakil rektor 1 Universitas PGRI Semarang yang membacakan puisi bersama
dengan Erda mahasiswi program studi
Bahasa Inggris. Puisi yang dibacakan adalah puisi yang berjudul “selir musim
panas”. Sebelum membacakan puisi bu Suci itu menyanyikan sebuah lagu bersana
Erda, dengan suara yang sangat merdu dan indah sekali. Penonton sampai
terkagum-kagum mendengar suara emas bu Suci dan Erda. Suara bu Suci yang
dipadukan dengan Erda membuat suasana di ruangan tersebut menjadi kondusif,
tentram dan membuat hati menjadi tenang setelah mendengar suara bu Suci dan
Erda.
Ketika bu Suci membacakan puisi tersebut yang diciptakan
oleh Triyanto Triwikromo yang berjudul “selir di musin panas”. Saat itu
penonton sangat antusias. Semua mata penonton tertuju ke bu Suci yang sedang
membacakan puisi tersebut. Acara tersebut berjalan dengan sangat lancar tanpa
ada suatu kendala apapun yang dapat mengahambat jalannya acara UPGRIS
Bersastra.
Penonton khususnya dari fakultas
bahasa diharapkan dapat mencontoh jalannya karier Triyanto Triwikromo seorang
pengarang puisi. Perjuangan yang begitu berat dan semangat yang begitu tinggi
untuk menulis beberapa buku. Sampai akhirnya Trinyanto Triwikromo berhasil dan
dengan hasil yang memuaskan.
Anak bahasa buakan hanya bisa menjdi
guru yang profesional tetapi bisa menjadi pengarang puisi atau cerpen yang
terkenal dan cemerlang dengan banyak penggemar buku yang dikarang oleh anah
bahasa. Kita sebagai anak bahasa dapat mulai menulis dari sekarang, dan
tulisan-tulisan tersebut di kirim ke media massa atau redaktur koran agar tulisannya
dapat di muat di koran. Dimulai dari situlah kita dapat membiasakan diri untuk
menulis, mengarang, atau menciptakan sebuat puisi, opini, cerpen dll.
Pak pras seorang yang menganalisis
cerpen yang berjudul “bersepeda ke neraka” karangan Triyanto Triwikromo. Beliau
sangat tertarik dengan cerpen tersebut. Dilihat dari judulnya “bersepeda ke
neraka” sudah sangat unik, bagaimana bisa bersepeda ke neraka. Disitulah pak
pras meganalisis cepen “bersepeda keneraka” karangan Triyanto Triwikromo. Kemudian kritikus yang
bernama Dr. Nur Hidayat, M.Hum. dosen Universitas PGRI Semarang yang menjadi
kritikus sastra. Beliau juga yang mengkritik buku yang dikarang oleh Triyanto
Triwikromo.
Biscuittime yang di undang untuk
menyanyikan beberapa lagu. Dengan 2 laki-laki yang bermain gitar (gitaris) dan
1 wanita cantik dan anggun yang bernyanyi (vokalis), mereka juga adalah
mahasiswa dari Universitas PGRI Semarang yang mengikuti kegiatan “kias” di
Universitas PRGI Semarang. Menyanyikan lagu yang berjudul “moksa” puisi karya
Triyanto Triwikromo, yang terinpirasi dengan puisi tersebut dan lagu yang
berjudul “aku hanya angin aku hanya langit” puisi karangan Triyanto Triwikromo
pula, puisi itu di buat lagu, dengan suara yang sangat merdu dan indah.
Dari awal sampai akhir kegiatan
sangat lancar, para penonton khususnya fakultas bahasa merasa sangat puas apa
yang ditampilkan dalam acara “UPGRIS Bersastra” tersebut. Dalam mengadakan
acara tersebut mempunyai harapan agar para penonton dapat menulis atau
mengungkapkan ide-ide yang ada difikiran mereka dengan menulis, dan dengan
tulisan-tulisan tersebut mereka dapat menjadi seorang pengarang seperti
Triyanto Triwikromo, bahkan berharap lebih dari TriyantoTriwikromo, agar
menciptakan atau melahirkan generasi baru yang cemerlang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar