Kamis, 20 September 2018

Autobiografi Winda Yulia Astuti


Nama saya Winda yulia astuti, biasa dipanggil winda. Ayah saya yang bernama Washadi dan ibu saya yang bernama Tuti Harningsih. Saya anak pertama dari 4 bersaudara, adik pertama saya laki-laki satu-satunya yang paling ganteng bernama Izza Nur Hidayatulloh dan sekarang berumur 15 tahun yang duduk d bangku SMP kelas 3 , Lalu adik saya yang kedua perempuan yaitu Ikfa Nur Ikhsani yang baru saja menginjak di sekolah TPQ (Taman Pendidikan Al-Quran), dan adik terakhir saya perempuan yang bernama Soleha Silmi Afiqo yang masih berumur 2 tahun, dimana seorang anak kecil yang sedang lucu-lucunya. Saya lahir di sebuah kampung kecil yang bernama Dumeling pada tanggal 13 Oktober 1997, dan sayadibesarkan oleh kedua orang tua saya disana tepatnya di kecamatan Wanasari kabupatern Brebes.
            Saya dilahirkan dari keluarga yang sederhana. Ayah saya hanyalah seorang buruh tani, dimana jika ada orang yang menyuruh beliau untuk bekerja di lahan sawahnya. Pendidikan ayah saya hanya SD namun tidak sampai lulus berbeda dengan ibu saya yang pendidikannya taman SD, sedangkan ibu saya hanya seorang ibu rumah tangga. Namun, walaupun walaupun kami hidup sederhana tapi kamu hidup bahagia. Kedua orang tua kami mendidik kami dengan baik dan alkhamdulillah meskipun kedua orang tua saya berpendidikan rendah namun mereka memiliki keinginan yang tinggi untuk anaknya meraih cita-cita, sampai kedua orang tua saya mampu menguliahkan saya. Saya bangga dengan pengorbanannya dan saya sayang dengan mereka. karena tanpa mereka kami tidak akan pernah tahu seperti apa bentuk dunia ini, tidak akan pernah tahu seperti apa cinta dan kasih sayang darinya, dan tidak akan pernah merasakan yang namanya hidup.
            Hobi saya menulis, membaca novel, cerpen, maupun komik. Saya senang menulis, sebagaimana mengungkapkan apa yang ada di dalam hati dan fikiran. Saya pun senang membaca dimana saya membayangkan dan juga ikut terjun dalam cerita tersebut, apa lagi membaca komik yang memiliki gambar-gambar yang unik dan bagus, lebih ada warna lain ketika membaca komik.
            Awal pendidikan saya adalah TPQ (Taman Pendidikan Al-Quran) tepatnya di TPQ Mambaul Ulum. Setelah 2 tahun lulus dari TPQ dengan memegang juara 2, dengan bangga maju ke atas panggung ditonton oleh para orang tua yang sedang menghadiri anaknya wisuda TPQ. Setelah selesai sekolah di TPQ umur 5 tahun setengah masuk ke SD tepatnya di SD N Dumeling 2 , ketika kelas 2 SD mesuk ke sekolah madrasan diniyah tepatnya di madrasan Azharul ulum, dimana sekolah madrasah diniyah itu dimulai pukul 13.00 atau 13.30 sampai pukul 16.00 atau 16.30. jadi pagi masuk SD kemudian sorenya lanjut sekolah madrasah. Dimana TPQ, SD, dan madrasah diniyah masih dalam 1 desa tempat tinggal saya. Selama sekolah diantar sekolah waktu awal-awal sekolah saja, selanjutnya saya berangkat dengan tante yang juga sekolah barenga dengan saya.
Akhirnya pada tahun 2009 saya lulus sekolah dasar dan lanjut ke jenjang yang lebih tinggi pada tahun tersebut. Saya memilih melanjutkan pendidikan ke SMP N 4 yang masih berada di kecamatan wanasari namun beda desa. Pada hari pertama saya masuk, saya sangat canggung dikarenakan jumlah siswa yang lebih banyak dari jumlah siswa waktu saya sekolah dasar, tentunya memiliki krakter dan tingkah laku yang beragam dan tidak semua orang baik disana, apa lagi saya tidak mengenal mereka sama sekali kecuali tante saya namun tante berbeda kelas dengan saya, waktu kelas 7 saya mendapatkan kelas B, dan tante saya mendapat kelas F otomatis kelas B dan F itu memiliki jarak yang lumayan jauh dan harus melewati beberapa kelas. Berbagai macam karakter orang yang telah saya temui, seperti pemaksaan dan perokok khususnya siswa cowok. Pada umumnya mereka  berangkat ke sekola menggunakan sepeda motor milik orang tuanya, ada juga yang menggunakan sepeda, dan berjalan yang rumahnya tidak jauh dengan sekolah. Saya dan tante kadang-kadang di antar oleh om, kadang juga jalan kaki atau naik sepeda berboncengan dengan tante saya. jarak sekolah ke rumah saya lumayan jauh karena memang beda desa. Selama saya kelas 7 saya juga masih sekolah madrasah diniyah kelas 6, dimana itu tingkat akhir sekolah madrasah, jadi harus bisa membagi waktu antara sekolah SMP dan Madrasah.
Pada tahun 2012 alkhamdulillah saya lulus dari SMP N 4 Wanasari dan mengambil ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Ketika akan mendaftar di salah satu SMA di Brebes, keluarga sedang dilanda masalah sampai saya bingung harus melanjutkan sekolah atau tidak, namuan saya memilih untuk mundur dan tidka melanjutkan sekolah, tetapi orang tua tetap mendorong saya untuk mendaftar dan melanjutkan sekolah di MAN 1 Brebes. Di sekolah itu saya mulai mengenakan jilbab karna menang tuntutan dari sekolah dan saya sadar bahwa itu juga merupakan salah satu kewjiban dalam Islam. Mengapa saya memilih MA karena saya ingin merasakan sekolah di Aliyah, dan ingin memperdalam agama.
Sewaktu kelas 10 saya mengikuti kegiatan ekstrakulikuler bela diri dan PMR yang begitu saya gemari. Setiap minggunya saya dan tante saya mengikutikegiatan bela diri dan PMR, namun tante tidak ikut PMR. Setelah sudah beberapa kali mengikut kegiatan ekstrakulikuler bela diri tante berhenti, dan saya tetap lanjut, waktu itu disuruh kakak kelas untuk membeli baju bela diri beserta sabuknya namun saat itu juga saya tidak diperbolehkan oleh ayah untuk mengikuti bela diri dikarenakan tante juga sudah tidak mengikuti kegiatan itu lagi, namun ibu mendukung jika saya mengikuti bela diri, namun apalah daya saya harus tetap nurut dengan ayah. Saat itu saya merassa tidak adil, kenapa apa-apa selalu dengan tante, bahkan bela diripun berhenti karena tante sudah tidak mengikuti lagi. Bela diri berhenti namun PMR tetap berjalan, ketika kelas 11 pertengahan saya mudur dari PMR.
Pada suatu waktu kelas 12 dimana UN (Ujian Nasional) datang, saya belajar dengan sungguh-sungguh bahkan seminggu sebelum UN berlangsung agar mendapatkan nilai yang bagus dan bisa lulus dari MAN karena saya tidak ingin mengecewakan kedua orang tua saya yang telah bersusuah payah menyekolahkan saya saya sampai sekarang dengan ikhlas tanpa mengharapkan belas kasihan apapun dari anaknya. Selalu menyayangi dan memberikan yang terbaik untuk anaknya. Maka dari itu saya harus memberikan yang terbaik utnuk mereka terutama pada ibu yang telah mengandung saya selama 9 bulan dengan mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan anaknya. Telah menyusui dan membesarkan saya dengan penuh kasih sayang yang mana sampai saat ini saya tidak akan bisa membalas semua itu. Tapi saya akan lakukan yang terbaik untuk membalas semua jasa yang telah diberikan kepada saya dan saya anggap jasa yang telah diberikan kepada saya selama ini merupakan hutang yang harus saya lunasi kepadanya, meskipun tidak akan pernah cukup.
Setelah UN selesai  dan mendapatkan surat kelulusan saya ingin sekali melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi yaitu kuliah, sebelum UN dilaksanakan ayah pernah memberikan pilihan kepada saya setelah saya lulus dari MAN nanti mmau kemana kuliah, kerja, atau nikah, saya lebih memilih untuk kuliah namun saya memikirkan biaya kuliah pasti sangat besar sedangkan pekerjaan ayah hanyalah seorang buruh tani. Namun ayah selalu menguatkan dan mendorong saya untuk kuliah, masalah biaya bisa sambil jalan, karena ayah juga menginginkan anaknya bisa kuliah dan sukses agar masa depannya tidak seperti beliau. Awalnya saya ingin menjadi seorang dokter namuan sepertinya tidka mungkin karena waktu SMA saya mengambil jurusan IPS. Akhirnya saya mendaftar di keperawatan karena saya memiliki keinginan untuk merawat orang-orang yang sedang sakit, namun tidak lolos, lalu saya mendaftar SNMPTN tidak lolos juga, kemudian mendaftar di UMPTKIN juga tidak lolos, lalu mendaftar ujian mandiri di sebuan universitas islam di semarang masih juga tidak lolos. Ahirnya saya menyerah karena semuanya tidak lolos, saya berfikir mungkin saya bisa mencoba lagi di tahun depan. Tetapi ayah saya menyusuh saya untuk mendaftar di UPGRIS, dimana ada tetangga yang kuliah disana, akhirnya saya mendaftar disana.
Mendaftar di UPGRIS dengan mengambil jurusan Bahasa Indonesia dan PGSD, alkhamdulillah saya lolos di jurusan Bahasa Indonesia. Sebelumnya saya tes tertulis dan wawancara diantar oleh om saya karena ayah sedang mengikuti ziarah kubur bersama dengan bapak-bapak sekampungnya. Setelah dinyatakan diterima di UPGRIS saya memiliki tekad dan niat yang besar untuk menjadi orang yang sukses dan bisa membanggakan orang tua di masa yang akan datang. Satu impian yang paling saya harapkan adalah kedua orang tua saya bisa naik haji dengan biaya anaknya. Semoga dapat tercapai aamiin. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar